desain sukseskan kukar idaman terbaik

Rasanya Beda dan Lebih Awet Disimpan, Telur Asin Pindang Asal Kaltim Tembus Pasar Nasional

whatsapp image 2025 08 30 at 18.13.10 50534a25
Produk telur asin Pindang UMKM binaan Dinas Peternakan Kaltim (yud/kaltimvoice.id)

KATIMVOICE.ID, SAMARINDA – Produk olahan telur asin pindang kini menjadi salah satu kuliner unggulan dari Kalimantan Timur. Tidak hanya digemari masyarakat lokal, produk ini juga telah berkali-kali tampil di berbagai pameran hingga ke tingkat nasional, termasuk di Pekan Raya Jakarta.

Hal itu disampaikan Linda Widyastuti, dokter hewan yang juga Ketua Tim Penyuluhan Kelembagaan Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur. Ia menilai telur asin Pindang menjadi bukti produk peternakan daerah mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Salah satu produk unggulan kita itu adalah telur asin pindang. Jadi memang pelaku usaha telur asin pindang ini sudah beberapa kali mengikuti kegiatan-kegiatan pameran seperti ini hingga keluar daerah,” kata Linda, Sabtu (30/8/25).

Menurutnya, telur asin ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan telur asin biasa. Jika pada umumnya telur asin hanya melalui proses pengasinan, telur asin pindang mendapat perlakuan khusus melalui tahap perebusan dengan rempah, kemudian dipanggang.

“Jadi kalau telur asin pindang ini sama dengan telur asin biasa sebenarnya, cuma diolah lagi dia, dipindang terus dipanggang agar mengurangi kadar airnya, jadi lebih awet. Secara teksturnya juga sedikit berbeda, rasanya pun ada perbedaan. Jadi enggak sekadar telur asin biasa,” jelasnya.

Dengan proses tersebut, daya simpan telur asin pindang lebih lama dibanding telur asin biasa. “Kalau telur asin biasa ‘kan mungkin bisa sekitar semingguan, ya. Ini bisa lebih, dua minggu bahkan lebih, dalam suhu ruang. Jadi enggak disimpan di kulkas pun masih cukup awet,” tambahnya.

Soal harga, telur asin pindang memang sedikit lebih tinggi, namun masih terjangkau masyarakat. “Kalau telur asin biasa sekarang sekitar Rp4.000–Rp5.000, kalau telur asin pindang sekitar Rp6.000–Rp7.000,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, saat ini pelaku usaha telur asin pindang di Kaltim masih terbatas, terutama di Samarinda dan Balikpapan. Meski demikian, perkembangannya cukup menjanjikan.

“Yang di Balikpapan sudah cukup bagus kemasannya. Penjualannya sudah masuk ke bandara dan mal. Bahkan, sudah bersertifikasi sehingga bisa masuk ke pasar modern. Kalau di Samarinda masih lebih tradisional, tapi tetap rutin ikut kegiatan pameran seperti ini,” ujarnya.

Dinas Peternakan Kaltim terus melakukan pembinaan agar pelaku usaha di Samarinda juga bisa meningkatkan kualitas produk. Salah satunya dengan perbaikan kemasan, standar higienitas, hingga sertifikasi.

“Harapannya produk dari Samarinda juga bisa naik kelas. Sebenarnya sudah memenuhi syarat secara sanitasi, hanya ada beberapa peralatan yang masih terbatas sehingga belum bersertifikasi,” jelasnya.

Ia berharap melalui ajang seperti Kaltim Expo, produk-produk peternakan lokal semakin dikenal masyarakat luas. “Kami ingin memperkenalkan ke masyarakat produk peternakan itu cukup banyak dan menarik agar menjadi alternatif konsumsi. Selain bergizi, juga punya keunikan rasa yang bisa dinikmati,” tutupnya. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *