KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Ancaman kesehatan di tengah kemarau panjang di Kalimantan Timur tidak hanya datang dari meningkatnya paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dinas Kesehatan Kaltim turut mewaspadai diare, leptospirosis, serta gangguan alergi akibat paparan debu.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan diare menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, khususnya di wilayah dengan sumber air terbatas.
“Risiko diare juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang sumber airnya terbatas,” ujar Jaya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kaltim belum lama ini.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan potensi penularan leptospirosis. Bakteri Leptospira yang dibawa tikus dapat mencemari lingkungan maupun sumber air melalui urine hewan tersebut.
“Kalau tikus membawa bakteri Leptospira dari urine yang mencemari lingkungan atau sumber air, masyarakat dapat terpapar ketika tidak mencuci tangan sebelum makan,” jelasnya.
Leptospirosis dapat menimbulkan gejala seperti demam, menggigil, hingga gangguan pencernaan. Masyarakat yang mengalami keluhan tersebut disarankan segera memeriksakan diri untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Di sisi lain, paparan debu juga berpotensi memicu gangguan kesehatan berupa alergi maupun gatal-gatal. Keluhan tersebut menjadi salah satu dampak yang perlu diperhatikan ketika kondisi udara dan lingkungan banyak terpapar debu.
“Gatal-gatal atau alergi akibat debu juga berpotensi meningkat,” tuturnya.
Sementara untuk ISPA, Jaya menyebut proses penyembuhannya umumnya berlangsung sekitar satu minggu karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus. Penyebabnya dapat berasal dari berbagai jenis virus, termasuk influenza dan virus lainnya.
Jika ISPA disertai demam, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Jaya menambahkan, masyarakat juga perlu mengenali sejumlah polutan udara yang dapat berdampak terhadap kesehatan jika terhirup dalam konsentrasi tinggi. Di antaranya karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), dan ozon (O₃).
Paparan polutan dalam kadar tinggi dapat memicu gangguan kesehatan hingga keracunan apabila terhirup secara berlebihan. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan selama kondisi udara belum kembali membaik.
“Kalau mengalami ISPA disertai demam, segera periksakan diri ke Puskesmas. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan yang sesuai,” tandas Jaya. (mell)