desain sukseskan kukar idaman terbaik

Alur Sungai Teras Samarinda Tahap II Dipenuhi Sampah, DLH Siapkan Penanganan Bersama BWS

whatsapp image 2026 08 12 at 16.48.12
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA -Tumpukan sampah, kayu dan gulma masih terlihat di alur sungai di sekitar Teras Samarinda Tahap II. Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Samarinda dalam penataan kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso, mengatakan pembersihan akan dilakukan lewat kerja bakti pada Jumat mendatang. Sejumlah perangkat daerah akan dilibatkan, di antaranya DLH, BPBD, Dinas PUPR dan Disdamkarmat.

“Yang sampah di pinggir sungai ini diagendakan hari Jumat kita kerja baktikan dengan seluruh unsur. Baik dari DLH, BPBD, PUPR, Damkar, dan yang lain-lain. Kita kerja baktikan massal di sini,” kata Suwarso saat meninjau Teras Samarinda Tahap II, belum lama ini.

Tetapi, tidak semua sampah bisa langsung dibereskan lewat kerja bakti. Di bagian alur sungai terdapat tumpukan kayu, gulma dan sampah yang sudah cukup padat.

Suwarso mengatakan tumpukan itu perlu penanganan khusus. Jika hanya digeser ke tengah sungai, material tersebut dikhawatirkan kembali ke tepian saat air pasang.

“Kalau hanya digeser ke tengah saja, nanti pasang bisa kembali lagi. Jadinya percuma kita kerjakan. Itu perlu secara teknis perencanaan khusus untuk menanganinya,” ujarnya.

DLH pun sudah berkomunikasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV karena lokasi tersebut masuk dalam kewenangan BWS. Peninjauan bersama akan dilakukan untuk menentukan cara penanganannya, termasuk kebutuhan anggaran.

Salah satu pilihan yang dibahas adalah menggunakan ekskavator amfibi atau ponton untuk mengangkat tumpukan material dari alur sungai.

whatsapp image 2026 08 12 at 16.48.11
Kondisi sampah dan material kayu yang menumpuk di alur sungai sekitar Teras Samarinda Tahap II. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

“Kalau untuk membuangnya itu perlu ekskavator amfibi atau dengan ponton. Mau dibuang, kan perlu teknisnya seperti apa,” katanya.

DLH juga menyiapkan pembatas di bagian ujung muara sungai. Langkah ini dilakukan agar kayu dan rumput yang terbawa aliran tidak kembali masuk ke kawasan tersebut.

“Untuk mengantisipasi masuknya kembali kayu maupun rumput-rumput di ujung muara sungai ini, kita mau pasang semacam besi pembatas atau wermes supaya tidak masuk kembali ke sungai kita,” ujarnya.

Di sisi lain, DLH mulai menyiapkan pemeliharaan Teras Samarinda Tahap II setelah masa tanggung jawab kontraktor selesai. Dari hasil peninjauan, masih ditemukan beberapa pohon mati dan rumput yang mulai mengering.

Suwarso mengatakan kondisi tanaman tersebut masih menjadi tanggung jawab kontraktor hingga sekitar 20 Agustus. Setelah itu, DLH akan menyiapkan pola pemeliharaan berikutnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan air untuk menyiram tanaman dan rumput. DLH mengaku masih mencari sumber air yang paling memungkinkan digunakan.

“Kita tadi agak kesulitan mencari sumber air untuk penyiraman. Itu sangat penting untuk suburnya tanaman maupun rumput gajah mininya,” jelasnya.

Sumber air dari Sungai Mahakam juga masih dipertimbangkan untuk kebutuhan penyiraman. Suwarso menilai opsi tersebut lebih dekat dan bisa lebih hemat jika nantinya menggunakan mesin untuk mengambil air sungai.

Namun, jika opsi tersebut belum memungkinkan, DLH tetap dapat menggunakan mobil tangki yang sudah dimiliki untuk melakukan penyiraman di kawasan Teras Samarinda Tahap II. Dengan skema itu, DLH tidak perlu menyiapkan anggaran baru untuk pengadaan kendaraan, melainkan hanya menambah kebutuhan bahan bakar.

“Mungkin dengan menempatkan satu buah mesin yang bisa menyiram di beberapa area ini juga memang lebih hemat. Tapi kalau cukup dengan penyiraman tangki, kita sudah punya mobil tangki. Paling tinggal menambah BBM saja,” pungkas Suwarso. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *