merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Strategi Baru Pemkab Kutim, Pasar Murah Hanya Digelar Saat Harga Bergejolak

img 20251121 wa0024
Pasar Induk Sangatta.

KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menerapkan pola berbeda dalam pelaksanaan pasar murah dibandingkan sebagian besar daerah lain. Alih-alih menggelar secara rutin setiap bulan, Kutim memilih strategi adaptif: pasar murah hanya digelar pada momen kebutuhan puncak dan saat terjadi krisis harga. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menjaga stabilitas pasar dan meredam spekulasi harga.

Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menjelaskan, kebijakan tersebut dilandasi perhitungan matang. “Kami tidak ingin pasar murah menjadi kegiatan rutinitas yang kemudian tidak berdampak. Pasar murah justru paling kuat efeknya ketika dilaksanakan pada saat masyarakat paling membutuhkannya,” ujarnya, Rabu (12/11/25).

Dony menegaskan, momen seperti Ramadan, Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru merupakan periode ketika konsumsi masyarakat meningkat dan harga pangan rentan naik. Ketersediaan stok murah dari pemerintah mampu menjaga psikologi pasar dan menghambat lonjakan harga. “Jika masyarakat melihat pemerintah hadir dengan stok barang murah dan berkualitas, kepanikan bisa ditekan,” katanya.

Selain itu, pasar murah juga menjadi instrumen intervensi saat terjadi gangguan pasokan. Contohnya ketika kasus beras oplosan mencuat, menyebabkan keresahan di masyarakat. “Beras oplosan itu membuat warga gelisah. Maka kami distribusikan beras terjamin lewat pasar murah agar kepercayaan pulih,” jelas Dony.

Dengan pola pelaksanaan yang tidak rutin, pemerintah dapat mengelola anggaran lebih efisien dan memastikan intervensi benar-benar tepat sasaran. Dony menegaskan bahwa tujuan pasar murah bukan menggantikan pedagang, tetapi mengembalikan keseimbangan harga. “Intervensi dilakukan untuk stabilisasi, bukan mengganggu mekanisme pasar,” tuturnya.

Strategi adaptif ini dianggap mampu memberikan efek pengendalian harga yang lebih nyata, terutama di Kutim yang sangat bergantung pada pasokan pangan luar daerah. (adv/diskominfokutim/yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *