desain sukseskan kukar idaman terbaik

Penanganan Karhutla Ekstrem di Penajam Paser Utara: Dari Inovasi Pemadaman Estafet hingga Penguatan Sinergi Lintas Sektor

whatsapp image 2026 10 15 at 19.15.49
Nurlaila mengungkapkan sejumlah lokasi pemadaman paling menantang yang menguji kesiapsiagaan tim gabungan di lapangan. Beberapa area kritis tersebut meliputi kawasan lahan empang dan tambak di Babulu Laut, wilayah Sukomulyo yang berada tepat di perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan PPU, hingga kawasan Rintik yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Paser.

KALTIMVOICE.ID, PENAJAM — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat dampak fenomena cuaca ekstrem El Nino di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur, membutuhkan pendekatan fisik serta teknik pemadaman yang sangat tangguh dan tidak biasa. Karakteristik paparan karhutla pada rentang periode 2023 hingga 2026 dinilai jauh lebih mengkhawatirkan dan ekstrem dibandingkan dengan lonjakan kasus pada tahun 2019 lalu. Hal ini disebabkan oleh persebaran titik api yang merambah hingga ke daerah terpencil serta sulit dijangkau oleh armada kendaraan pemadam kebakaran utama.

Penjelasan mendalam tersebut dipaparkan langsung oleh Kepala Pelaksana (Kalaks) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, S.H., M.H., saat menjadi narasumber utama dalam program pogram wicara Taka Talks Ep. 22 yang ditayangkan pada saluran YouTube resmi Humas Sekretariat Kabupaten Penajam Paser Utara.

Strategi Inovasi Estafet Membelah Medan Terisolasi

Nurlaila mengungkapkan sejumlah lokasi pemadaman paling menantang yang menguji kesiapsiagaan tim gabungan di lapangan. Beberapa area kritis tersebut meliputi kawasan lahan empang dan tambak di Babulu Laut, wilayah Sukomulyo yang berada tepat di perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan PPU, hingga kawasan Rintik yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Paser. Seluruh area tersebut memiliki kendala geografis serupa: keterbatasan akses jalan darat yang membuat mobil pemadam kebakaran ukuran besar tidak mungkin melintas.

Guna mengatasi hambatan geografis dan keterbatasan sumber air di lokasi kejadian, BPBD PPU menerapkan strategi teknik pemadaman estafet. Metode ini mengandalkan efisiensi peralatan portabel dan kerja sama tim yang solid di tengah keterbatasan sarana.

“Jika armada mobil pemadam hanya bisa masuk sampai titik tertentu, kami mencari parit atau sumber air kecil di sekitar lokasi menggunakan mesin jinjing (pompa alkon). Dari sana, air dialirkan secara estafet menggunakan flexible tank yang disambung ke pompa untuk menyemprot titik api,” terang Nurlaila.

Solidaritas Lintas Sektor dan Kunci Keberhasilan Lapangan

Kondisi medan yang berat, ditambah dengan pekatnya paparan asap, debu, serta tingginya suhu udara, menuntut daya tahan fisik serta koordinasi yang erat antarelemen penanggulangan bencana. Menjawab tantangan tersebut, BPBD PPU berhasil mengonsolidasikan kekuatan lintas sektor. Satuan tugas gabungan ini melibatkan jajaran TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, Satpol PP, Dinas Pertanian, Brigade Karhutla, otoritas IKN, hingga barisan relawan masyarakat lokal.

Demi membangun keselarasan kerja dan ikatan emosional (chemistry) yang kuat saat berhadapan dengan bahaya di lapangan, seluruh personel dari berbagai instansi tersebut rutin menggelar sesi latihan fisik bersama. Kolaborasi dan sinergi terpadu ini terbukti sangat ampuh meredam eskalasi karhutla di wilayah PPU. Meski sempat mengalami lonjakan titik panas (hotspot) yang signifikan pada kurun waktu Juli dan Agustus, kerja keras seluruh tim berhasil menekan angka kebakaran hingga kini kembali mencapai angka nol (zero hotspot).

(Adv44/diskominfoppu/udin.zacrez)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *