desain sukseskan kukar idaman terbaik

Disdikpora PPU Dorong Penyusunan Buku Bilingual untuk Efektivitas Mulok Bahasa Paser

whatsapp image 2026 10 15 at 18.16.16
Guna mengatasi kesenjangan kapasitas pengajar saat ini, Disdikpora memaksimalkan forum pertemuan berkala antar-guru mulok melalui program bimbingan dan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan tersebut mengoptimalkan peran penilik dan pengawas sekolah yang merupakan penutur asli (native speaker) bahasa Paser.

KALTIMVOICE.ID, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, terus mengoptimalkan pelaksanaan program muatan lokal (mulok) bahasa Paser di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) meski dihadapkan pada keterbatasan tenaga pendidik dan sarana penunjang.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara, Durajat, menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Paser pada dasarnya telah berjalan di seluruh jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Penajam Paser Utara. Bahkan, komponen mata pelajaran tersebut telah memiliki kolom penilaian resmi di dalam rapor siswa.

Menurut Durajat, penerapannya merupakan komitmen daerah untuk menjaga serta melestarikan identitas dan kekhasan budaya lokal di tengah arus modernisasi.b Namun, dalam pelaksanaannya di lapangan, pihak dinas mencatat sejumlah kendala utama yang memengaruhi efektivitas pembelajaran.

“Kendala kita yang pertama adalah kurangnya tenaga guru yang khusus mengajar mulok bahasa Paser. Selama ini, pembelajaran bahasa Paser di sekolah-sekolah masih diampu oleh guru kelas yang mayoritas berasal dari luar suku Paser, seperti etnis Jawa dan Bugis,” ujar Durajat di Penajam.

Ia menjelaskan bahwa kondisi idealnya, setiap pengajar muatan lokal bahasa daerah setidaknya memahami dan menguasai bahasa tersebut dengan baik, terlepas dari latar belakang etnisitasnya. Kebutuhan ini menjadi makin mendesak mengingat jumlah SD dan SMP di Penajam Paser Utara yang mendekati angka 500 sekolah, di mana setiap satuan pendidikan idealnya memiliki setidaknya satu guru khusus bahasa Paser.

Permasalahan kelangkaan pengajar ini kian terasa kompleks karena daerah tersebut secara umum juga masih mengalami defisit tenaga pendidik secara menyeluruh, baik untuk guru kelas maupun guru bidang studi umum.

“Kondisi riil di lapangan, kami sangat kekurangan guru. Bahkan untuk guru kelas dan guru bidang studi saja, per hari ini kita masih kekurangan 99 orang. Belum lagi memperhitungkan deretan guru yang memasuki masa pensiun dalam beberapa pekan hingga bulan ke depan yang jumlahnya terus bertambah,” tuturnya.

Menyikapi keterbatasan anggaran daerah saat ini, Disdikpora Penajam Paser Utara terus menempuh langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pihaknya telah menggelar pertemuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Lembaga Adat Paser guna menyampaikan gambaran riil mengenai kondisi pembelajaran muatan lokal di sekolah.

Selain itu, Disdikpora merencanakan rapat koordinasi lanjutan bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta Badan Keuangan Daerah untuk mencari solusi konkret atas masalah kekurangan guru secara menyeluruh.

Di samping persoalan kuantitas dan kualifikasi guru, Durajat menyoroti kendala kedua yang tak kalah krusial, yaitu ketersediaan materi ajar atau buku pendukung. Buku muatan lokal bahasa Paser yang beredar saat ini umumnya hanya menggunakan satu bahasa tunggal, yakni bahasa Paser.

Kondisi tersebut dinilai kurang efektif karena mayoritas siswa maupun tenaga pengajar di Penajam Paser Utara bukan berasal dari etnis Paser.

“Harusnya penyusunan buku ini dibuat secara dwibahasa (bilingual), yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Paser. Dengan format dwibahasa, guru yang mengajar dapat lebih mudah memahami materi dan menerangkannya kembali kepada para siswa yang sebagian besar bukan anak Paser,” jelasnya.

Guna mengatasi kesenjangan kapasitas pengajar saat ini, Disdikpora memaksimalkan forum pertemuan berkala antar-guru mulok melalui program bimbingan dan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan tersebut mengoptimalkan peran penilik dan pengawas sekolah yang merupakan penutur asli (native speaker) bahasa Paser.

Di sisi lain, Disdikpora juga memberdayakan tenaga kependidikan atau staf tata usaha dari kalangan pemuda lokal Paser yang menguasai bahasa daerah tersebut untuk diperbantukan mengajar di kelas, kendati sebagian dari mereka belum berijazah Sarjana (S-1).

“Status mereka memang ada yang sebagai tenaga tata usaha, tetapi karena mereka anak Paser dan memahami bahasa Paser, potensi itu yang kita optimalkan terlebih dahulu untuk mengisi kekosongan saat ini sambil terus mendorong peningkatan kualifikasinya,” pungkas Durajat.

(Adv39/diskominfoppu/udin.zacrez)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *