KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Harga komoditas ikan di Pasar Segiri Samarinda menjelang Iduladha 1447 H masih terpantau relatif stabil. Namun, di tengah kondisi tersebut, pedagang justru mengeluhkan lonjakan harga plastik yang dinilai semakin membebani biaya operasional mereka.
Salah seorang pedagang ikan di Pasar Segiri, Rosdiana mengatakan, harga ikan layang yang menjadi acuan harga ikan lainnya saat ini masih berada di angka normal, yakni sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Menurutnya, harga ikan sempat melonjak hingga Rp40 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram saat momentum tahun baru lalu. Namun dalam sepekan terakhir, harga kembali turun. “Kalau harga layang naik, biasanya ikan lain ikut naik juga. Sekarang sudah normal lagi Rp35 ribu sekilo,” ujarnya, Kamis lalu (21/5/2026).
Meski harga ikan relatif stabil, Rosdiana mengaku keuntungan pedagang kini mulai tergerus akibat kenaikan harga plastik pembungkus. Ia menyebut, harga plastik yang sebelumnya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu kini naik menjadi sekitar Rp20 ribu sampai Rp23 ribu per bungkus. Sementara kantong plastik ukuran tertentu yang sebelumnya dijual Rp17 ribu kini mencapai Rp28 ribu per bungkus.
Kondisi itu membuat biaya pengeluaran harian pedagang untuk kebutuhan plastik meningkat drastis. “Dulu paling habis Rp50 ribu sampai Rp60 ribu sehari untuk plastik. Sekarang bisa lebih Rp100 ribu,” katanya.
Rosdiana mengaku tetap bertahan karena kebutuhan pembeli terhadap plastik masih cukup tinggi. Namun kenaikan harga tersebut membuat margin keuntungan pedagang semakin tipis. “Untungnya jadi tipis sekarang karena harga plastik naik,” ujarnya.
Lonjakan harga itu juga dibenarkan Haji Basri, pedagang plastik di Pasar Segiri. Ia mengatakan kenaikan terjadi hampir di seluruh jenis plastik, mulai dari kantong kecil hingga plastik besar berwarna.
Plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu per pak kini naik menjadi Rp16 ribu. Sementara harga satu karung plastik dari distributor yang sebelumnya sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu kini tembus lebih dari Rp1 juta. “Sekarang satu karung bisa Rp1,2 juta sampai Rp1,3 juta dari pabrik,” katanya.
Ia menjelaskan, pedagang hanya mengikuti harga dari agen dan pabrik. Kenaikan tersebut disebut berkaitan dengan mahalnya bahan baku minyak yang memengaruhi industri plastik. Akibat harga yang terus naik, daya beli masyarakat mulai berubah. Pembeli disebut masih ramai, namun jumlah barang yang dibeli cenderung berkurang dibanding sebelumnya. “Biasanya beli empat, sekarang beli dua. Orang tetap beli, cuma dikurangi karena mahal,” ujarnya.
Meski omzet tidak turun drastis, ia mengakui kondisi tersebut mulai memengaruhi perputaran penjualan di pasar. “Kalau harga tidak dinaikkan, kami rugi karena barang dari pabrik memang sudah mahal.” pungkas Basri. (mell)