merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Beluluh Jadi Ikhtiar Menjaga Warisan Adat Kutai

whatsapp image 2026 09 17 at 19.01.08
Ritual sakral yang dihadiri langsung Bupati Aulia Rahman Basri pada Kamis (17/9/2026) ini dilaksanakan di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, (Foto : Ldy/Kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, TENGGARONG – Prosesi Beluluh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi salah satu cara Kesultanan menjaga warisan adat dan budaya Kutai yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ritual sakral yang dihadiri langsung Bupati Aulia Rahman Basri pada Kamis (17/9/2026) ini dilaksanakan di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, sebagai bagian dari rangkaian Pra-Erau Adat Kutai 2026.

Perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Mangku Patih, mengatakan Beluluh bukan sekadar prosesi menjelang Erau. Ritual ini menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan adat dan budaya Kesultanan agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Beluluh merupakan salah satu ritual sakral dan fundamental bagi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” katanya.

Menurutnya, Beluluh merupakan salah satu bentuk manifestasi dalam melestarikan adat dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Ritual tersebut dimaknai sebagai upaya untuk menyucikan diri Sultan sekaligus mendoakan kesehatan dan kekuatan dalam menjalani rangkaian Erau.

Secara etimologis, Beluluh berasal dari dua kata dalam bahasa Kutai, yakni buluh yang berarti batang bambu dan luluh yang berarti musnah atau hancur.

“Pada intinya menyucikan diri. Dan ini adalah warisan budaya dari Kesultanan Kutai yang kami harapkan dapat terus berlangsung sampai kapan pun,” tuturnya.

Karena itu, pelaksanaan Beluluh setiap Erau menjadi bagian dari kesinambungan warisan adat yang tidak terputus. Pangeran Mangku Patih menegaskan, prosesi ini merupakan salah satu rangkaian wajib yang harus dilaksanakan dalam Erau.

“Warisan ini terus akan kita jaga,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Bupati Aulia Rahman Basri mengatakan Erau memiliki kedudukan istimewa dalam ingatan kolektif masyarakat Kutai. Karena itu, keberlangsungannya tidak hanya menjadi tanggung jawab Kesultanan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah.

“Mungkin bagi kita, seandainya Erau ini tidak dilaksanakan dalam satu tahun, pasti bagi orang yang merasa orang Kutai, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” ungkapnya.

Menurutnya, Erau telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kukar. Di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan sakral maupun seremonial yang memiliki nilai budaya dan sejarah. Nilai-nilai ini perlu dipahami dan dijaga, terutama oleh generasi sekarang.

“Kehadiran kita di sini bukan hanya untuk menyaksikan sebuah prosesi, melainkan untuk meneguhkan kembali hubungan antara sejarah, adat, kepemimpinan, dan kehidupan masyarakat Kukar,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan penghormatan kepada Sultan, kerabat Kesultanan, para pemangku adat, pelaku seni budaya, serta masyarakat yang selama ini menjaga keberlangsungan Erau dari generasi ke generasi.

Tak hanya itu, ia juga meminta seluruh warga Kukar mengikuti Erau Adat Kutai 2026 dengan tertib dan penuh penghormatan.

“Dengan melestarikan adat dan budaya, insyaallah keberkahan akan datang di tengah-tengah kita semua,” pungkasnya.

(Ln/adv4/kukar)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *