desain sukseskan kukar idaman terbaik

Laju ISPA Samarinda Meningkat di Tengah Kualitas Udara Memburuk, 16 Hari Capai 8.609 Kasus

whatsapp image 2026 09 17 at 18.05.11
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih, saat menyampaikan perkembangan kasus ISPA dan kondisi kualitas udara Samarinda. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda sudah mencapai 8.609 kasus hanya dalam 16 hari September 2026, sementara pada bulan Agustus Dinas Kesehatan Kota Samarinda mencatat 12.176 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, peningkatan kasus ISPA terus dipantau seiring kualitas udara Samarinda yang memburuk. Ia menyebut kenaikan kasus kini sudah berada di kisaran hampir 30 persen.

“Yang jelas meningkat itu hampir kurang lebih kalau kemarin ya Agustus terhadap Juli dan Juni itu sekitar 22 persen, ini meningkat terus, meningkat di atas hampir 30 persen,” kata Ismid saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Samarinda, Kamis (17/9/2026).

Data Dinkes Samarinda mencatat kasus ISPA pada Juni sebanyak 9.994 kasus, kemudian Juli 10.011 kasus. Jumlahnya meningkat menjadi 12.176 kasus pada Agustus.

Memasuki September, laju kasus terlihat lebih cepat. Hingga 16 September saja, tercatat 8.609 kasus atau rata-rata sekitar 538 kasus per hari. Sebagai pembanding, total Agustus sekitar 393 kasus per hari.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinkes karena kualitas udara Samarinda dalam beberapa hari terakhir berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Ismid mengatakan pemantauan dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melihat perkembangan kualitas udara dari hari ke hari.

“Sehubungan dengan perkembangan, dari hari ke hari dan pada hari ini kita lihat memang kualitas udara yang dipantau dari BMKG dan juga dari DLH menunjukkan hampir merata ya,” jelasnya.

Dinkes juga melakukan pemantauan di 26 puskesmas melalui tim kesehatan lingkungan (kesling). Pengukuran menggunakan particle counter dilakukan untuk mengetahui kondisi udara di dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hampir di semua puskesmas itu memang rata-rata kualitas udaranya yang PM2.5 maupun PM10 itu sudah di atas normal,” tambahnya.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus, mulai dari bayi, balita, anak sekolah, ibu hamil, hingga warga dengan penyakit paru atau jantung.

Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan udara yang tercemar.

“Kita berharap masyarakat ini bisa memahami kondisi seperti ini dan kalau keluar rumah ya menggunakan masker,” ujarnya.

Untuk menekan paparan terhadap anak-anak, pembelajaran tatap muka di Samarinda juga dihentikan sementara dan dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh pada 17–19 September 2026. Kebijakan tersebut akan dievaluasi kembali berdasarkan perkembangan kualitas udara.

Dinkes juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap disiapkan menghadapi kemungkinan peningkatan kasus. Persediaan obat, bahan medis habis pakai, peralatan kesehatan hingga oksigen terus dipantau dan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat serta kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

“Kita sudah mengantisipasi dari sisi obat-obatan, BMHP (Bahan Medis Habis Pakai), kemudian peralatan kesehatan, termasuk oksigen,” imbuhnya.

Ismid berharap langkah pengurangan aktivitas di luar ruangan dan pengendalian paparan asap dapat menahan laju peningkatan ISPA. Terlebih, kasus September masih dihitung hingga pertengahan bulan sehingga perkembangannya masih terus dipantau.

“Kita harapkan dengan PJJ dan mengurangi aktivitas di luar rumah, kenaikan ISPA ini tidak signifikan,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *