KALTIMVOICE.ID, TENGGARONG – Kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Terutama Kota Raja, Tenggarong, pada Kamis (17/9/2026), diduga berkaitan dengan asap kiriman dari wilayah Kutai Barat (Kubar).
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa dugaan tersebut muncul setelah melihat kondisi cuaca di wilayah Kubar yang sebelumnya diguyur hujan.
Pada kondisi tertentu jelas Aulia, hujan justru dapat membuat asap dari kebakaran lahan gambut keluar ke permukaan.
“Kabut asap ini, kemungkinan kalau kami lihat, bisa jadi ini merupakan kabut asap kiriman karena kemarin kan di Kubar hujan,” kata Aulia di Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan karakter lahan gambut. Api maupun asap yang berada di bagian bawah permukaan lahan dapat kembali keluar setelah terjadi proses hujan.
“Nah, tipologinya, ketika lahan gambut, itu terjadi proses hujan, maka itu asap yang ada di bawah atau api di bawah, itu asapnya keluar,” tuturnya.
Aulia berharap kondisi kabut asap tersebut tidak berlangsung lama. Pemerintah juga berharap titik api yang berada di wilayah sumber asap telah berhasil dipadamkan sehingga kabut yang terbawa ke wilayah lain hanya merupakan bagian dari proses pemadaman.
“Harapan kita ini tidak berlangsung lama, api yang ada di sana sudah padam, ini hanya bagian dalam proses pemadaman api yang dilaksanakan,” ujarnya.
Meski kondisi udara secara kasat mata terlihat cukup pekat, Aulia menyebut hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterima pemerintah masih berada pada kategori biru.
“Ya, dari tangkapan kita secara kasat mata, memang kita melihat cukup tebal ya asap yang ada di tempat kita. Tapi kalau kita monitor di ISPU kita, itu masih di angka di label biru. Tapi nanti kita cek lagi,” terangnya.
Pemkab Kukar, lanjut Aulia, juga tengah menyiapkan penguatan sistem pemantauan kualitas udara. Pasalnya, alat pemantauan kualitas udara milik kementerian yang menjadi rujukan saat ini disebut berada di sejumlah wilayah pesisir.
“Karena memang kalau pengukuran dari Kukar, Kukar rencananya, kita akhir tahun ini baru membeli alat untuk mengukur kualitas udara,” ungkapnya.
Ia menyebut titik pemantauan kualitas udara milik kementerian berada di kawasan Santan, Muara Jawa dan Wonotirto. Sementara untuk wilayah tengah Kukar, pemantauan disebut bergabung dengan wilayah Kubar.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena luas wilayah Kukar membuat kondisi udara di satu kawasan belum tentu menggambarkan kondisi kawasan lainnya.
Karena itu, Pemkab Kukar berencana untuk menyiapkan alat pemantauan di sejumlah wilayah, di antaranya Kota Bangun, Kembang Janggut, Sebulu dan Muara Kaman.
“Makanya nanti kita berupaya untuk kasih alat untuk ukur di daerah Kota Bangun, di daerah Kembang Janggut, di daerah Sebulu, Muara Kaman,” tegasnya.
Keberadaan alat pemantau kualitas udara di sejumlah titik, menurutnya, akan membantu pemerintah mendapatkan gambaran kondisi udara yang lebih spesifik. Data tersebut juga dibutuhkan dalam menentukan kebijakan ketika kualitas udara memburuk.
“Karena menurut hemat kami, ini menjadi sesuatu yang penting untuk kita membuat kebijakan-kebijakan seperti PJJ dan lain sebagainya,” paparnya.
Terkait jumlah alat pengukur kualitas udara yang akan dibeli, Aulia mengatakan masih menunggu perhitungan kebutuhan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kukar.
“Sesuai kebutuhan, ini DLH lagi menghitung,” tutupnya.
(Ln/adv6/kukar)