KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Di tengah upaya Pemerintah Kota Samarinda mencari sumber-sumber baru pendapatan asli daerah (PAD), potensi wisata alam dinilai masih menjadi “harta karun” yang belum tergarap optimal. Padahal, sejumlah kawasan perbukitan, wisata sungai hingga destinasi alam yang pernah populer dinilai memiliki peluang besar menggerakkan ekonomi masyarakat.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal, menilai langkah pemerintah menghidupkan berbagai agenda rutin di kawasan Stadion Segiri sudah berada di jalur yang tepat. Aktivitas tersebut mampu menarik kunjungan masyarakat dan mendatangkan perputaran ekonomi baru ke Kota Tepian.
Namun, kata dia, pengembangan PAD tidak bisa hanya bertumpu pada penyelenggaraan event semata. Samarinda masih memiliki potensi wisata alam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi unggulan.
“Itu salah satu bentuk keinginan pemerintah kota mendapatkan PAD melalui event. Kalau tidak dilakukan, sulit sekali mengundang orang luar. Dengan agenda rutin itu, otomatis arus keluar masuk masyarakat ke Samarinda menjadi tinggi,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Joha melihat peluang besar justru berada pada sektor wisata berbasis alam yang selama ini tumbuh secara organik di tengah masyarakat. Beberapa lokasi bahkan sempat viral dan ramai dikunjungi, namun belum mendapatkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Di kawasan perbukitan misalnya, Samarinda memiliki sejumlah titik yang mulai dikenal publik seperti Gunung Steling dan Bukit RCTI di Samarinda Seberang. Menariknya, sebagian besar destinasi tersebut berkembang berkat inisiatif warga setempat.
“Kita punya Gunung Steling, kemudian Bukit RCTI di Samarinda Seberang dan banyak lagi yang saat ini semua wisata itu diciptakan oleh warga. Semestinya begitu momentumnya viral, pemerintah segera menangkap peluang itu untuk pengembangan infrastrukturnya,” katanya.
Selain wisata dataran tinggi, Joha juga menyoroti potensi wisata air yang menurutnya masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Tidak hanya Sungai Mahakam, kawasan Sungai Karang Mumus juga dinilai memiliki ruang untuk dikembangkan menjadi destinasi baru yang mampu menarik wisatawan.
“Seperti wisata sungai. Selain Sungai Mahakam, pemerintah mungkin dapat menggali wisata lain untuk di Sungai Karang Mumus, seperti apa nantinya wisata air yang dapat dihadirkan di sana,” ucapnya.
Di sisi lain, ia menyayangkan sejumlah aset wisata yang pernah menjadi tujuan favorit masyarakat kini justru kehilangan daya tarik. Beberapa di antaranya adalah kawasan Hutan Lindung Kebun Raya Samarinda dan Air Terjun Tanah Merah yang dinilai memerlukan sentuhan revitalisasi agar kembali hidup.
Menurut Joha, pengembangan maupun revitalisasi destinasi wisata tidak hanya berdampak pada peningkatan PAD, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Ketika destinasi tumbuh, sektor usaha kecil, kuliner, jasa hingga lapangan pekerjaan baru akan ikut bergerak.
“Nantinya warga sekitar bisa ikut di dalamnya. Dengan adanya wisata baru ini, maka akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat,” pungkasnya. (mell/ADV22/dprdsamarinda)