KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum menyemai awan di wilayah Samarinda karena kondisi cuaca masih cerah. Padahal, pesawat Cessna Caravan 208B dan bahan semai berupa 6 ton natrium klorida (NaCl) telah disiagakan di Bandara APT Pranoto.
Koordinator Lapangan OMC Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus operator PT Milan Pillery Bersatu, Abdul Arsyad, mengatakan pelaksanaan penyemaian sangat bergantung pada pertumbuhan awan yang memiliki potensi untuk dioptimalkan menjadi hujan.
“Untuk Samarinda sendiri kondisi sementara masih cerah, belum bisa dilakukan pelaksanaan kegiatan OMC,” ujar Arsyad, Selasa (15/9/2026).
Sementara itu, pertumbuhan awan mulai terpantau di sejumlah wilayah lain di Kaltim. Salah satunya di Kutai Timur, meski awan yang muncul masih rendah sehingga belum memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.
“Untuk sementara pertumbuhan awan itu di Kalimantan Timur bagian timur, bagian utara juga masih ada. Di wilayah Kutai Timur sudah terdapat potensi awan, namun masih minim yang belum bisa disemai karena masih awan-awan rendah,” jelasnya.
Arsyad menjelaskan, OMC bukan dilakukan untuk menciptakan hujan ketika tidak terdapat awan. Dalam kondisi kemarau, uap air cenderung minim sehingga hujan yang terbentuk secara alami pun berpotensi berintensitas ringan.
Karena itu, tim menunggu awan yang sudah memiliki potensi hujan untuk kemudian dioptimalkan melalui penyemaian bahan NaCl.
“Karena sekarang kondisinya kemarau, cenderung minim uap air. Walaupun hujan secara alami itu intensitasnya sangat ringan, makanya dilakukan OMC ini untuk dapat meningkatkan intensitas curah hujan,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, periode 15–19 September masih memiliki potensi pertumbuhan awan di Kaltim, terutama wilayah timur, pada siang hingga sore hari. Namun, penerbangan OMC dapat dilakukan siang maupun malam, menyesuaikan kemunculan awan yang memenuhi syarat.
Pesawat yang digunakan merupakan Cessna Caravan 208B dengan registrasi BKSNL. Armada tersebut memiliki jangkauan sekitar 120–140 mil laut dari APT Pranoto, dengan waktu tempuh menuju wilayah sasaran sekitar satu jam.
Rute penerbangan juga tidak ditentukan sejak awal. Tim akan menyesuaikannya dengan perkembangan awan dan hasil pemantauan BMKG di wilayah Kaltim.
“Untuk rute kita menyesuaikan dengan nanti pertumbuhan awan. Cakupannya cukup besar di wilayah Kalimantan Timur, jadi setiap wilayah jika terdapat potensi dapat dioptimalkan,” tutur Arsyad.
Saat ini, satu pesawat disiapkan untuk pelaksanaan OMC. Selain kru dan kebutuhan operasional, bahan semai NaCl sebanyak 6.000 kilogram atau 6 ton telah tersedia di lokasi penyimpanan di Bandara APT Pranoto untuk periode operasi 15–19 September 2026.
Dalam setiap penerbangan, sekitar satu ton atau 1.000 kilogram bahan semai dibawa untuk digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi awan yang menjadi sasaran.
Dengan demikian, untuk Samarinda pelaksanaan OMC masih menunggu perubahan cuaca. Selama belum muncul awan yang dapat dioptimalkan, pesawat tetap standby dan pemantauan terus dilakukan.
“Kita bisa melakukannya kalau ada potensi awan yang dapat dioptimalkan,” tutup Arsyad. (mell)