merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Relokasi SMPN 24 dan SDN 13 Tak Ditempuh, Pemkot Fokus Bangun Drainase Pengusir Banjir

img 20251107 wa0003
SMP Negeri 24 Samarinda di Jalan Suryanata menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras mengguyur. (ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda menegaskan tidak akan mengambil opsi relokasi terhadap SMPN 24 dan SDN 13 yang sudah jadi langganan banjir. Fokus utama saat ini ialah membenahi sistem drainase yang dianggap sebagai akar persoalan.

Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), Syaparudin, menjelaskan bahwa hasil kajian teknis menunjukkan masalah utama bukan terletak pada lokasi sekolah, melainkan sistem drainase yang belum tertata baik.

Setelah meninjau langsung ke lapangan, pihaknya memastikan bahwa solusi terbaik adalah memperbaiki aliran air, bukan memindahkan sekolah. “SD 13 dan SMP 24 sebagai sekolah yang selama ini terdampak banjir. Kesimpulan kita juga tidak perlu direlokasi atau dipindah karena sesungguhnya problemnya adalah banjir, dan banjirlah yang perlu kita atasi, bukan sekolah yang kita pindah,” tegasnya, Jumat (7/11/2025).

Menurut Syaparudin, TWAP telah melakukan observasi mendalam di kawasan Jalan Suryanata. Dari hasil evaluasi, sistem drainase yang ada tidak mampu menampung volume air yang datang dari berbagai arah, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

Oleh karena itu, TWAP merekomendasikan proyek revitalisasi besar-besaran drainase di sekitar sekolah, mulai dari simpang tiga Jalan Kadrie Oening hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lama di Gunung Sampah.

“Secara teknis, sebenarnya kemarin setelah kita lihat lokasi lapangan, kita butuh perbaikan revitalisasi drainase, penambahan drenase, memperbaiki drainase, dan di simpang tiga Kadrie Oening–Suryanata menuju ke gunung sampah atau TPA lama,” ujarnya.

Syaparudin menambahkan, banjir di dua sekolah tersebut juga diperparah oleh air kiriman dari bukit sampah dan kawasan perumahan Bukit Pinang. Aliran dari dataran tinggi itu mengarah ke area sekolah yang berada di titik rendah sehingga air mudah meluap hingga masuk ke ruang kelas.

“Kalau dua sisi itu kita benahi drainasenya, maka hampir bisa dipastikan banjir di dua sekolah ini bisa kita atasi. Jadi tentu pengaturan drainase terintegrasi di sekitar sekolah juga harus kita lakukan karena di sekitar SMPN 24, selain kiriman dari bukit sampah, juga dari perumahan Bukit Pinang. Ini yang harus kita atasi bukan sekolah yang kita pindah,” katanya.

Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, TWAP juga mengusulkan pembangunan drainase tambahan di dalam lingkungan sekolah. Tujuannya agar air dari arah bukit bisa langsung dialirkan ke sungai di depan sekolah tanpa sempat menggenangi halaman atau ruang belajar.

“Kita akan rencanakan membuat drainase di dalam sekolah, di halaman sekolah yang menghubungkan dari arah Limang, banjir di atas langsung lurus menuju sungai di depan sekolah,” ungkap Syaparudin.

Saat melakukan peninjauan, tim juga menemukan adanya aliran air dari area TPA Bukit Pinang yang menyebabkan parit di sekitar sekolah berubah warna menjadi hitam dan menimbulkan bau tidak sedap.

Setelah ditelusuri, diketahui bahwa air tersebut masuk melalui sebuah tembok yang berfungsi sebagai pintu air. Kondisi itu segera ditangani dengan menutup saluran tersebut. “Sudah kita tinjau lapangan, ada tembok yang kita tutup karena tembok itu pintu air yang memasukkan. Masuk air dari sampah TPA Bukit Pinang masuk ke sekolah, itu harus kita tutup,” jelasnya.

Selain fokus pada area sekolah, TWAP juga berencana menata ulang saluran air di pinggir Jalan Suryanata agar terhubung langsung dengan sistem drainase utama kota. Langkah ini termasuk memperlebar dimensi parit dan memperkuat struktur infrastruktur tepi jalan untuk memperlancar arus air. “Terutama di pinggir jalan juga harus kita tata sedikit berupa, kita perbaiki, kita bangun. Ini harapan kita, kita bisa mengatasi banjir di dua sekolah ini,” tutur Syaparudin.

Ia menegaskan, pendekatan yang diambil TWAP bukan hanya penanganan sementara, tetapi menciptakan sistem pengendalian banjir yang menyeluruh di kawasan pendidikan. Dengan drainase yang tertata baik, Syaparudin optimis kegiatan belajar di SMPN 24 dan SDN 13 dapat kembali berjalan tanpa gangguan banjir.

“Intinya rekomendasi kita harus kita perbaiki drainase, harus kita bangun drainase di pinggir Jalan Suryanata sampai ke gunung. Itu untuk mengatasi banjir di sekitar Jalan Suryanata ujung, di sekitar SMPN 24 dan SDN 13,” tutupnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *