merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Penularan HIV Tidak Semudah TBC, Kadinkes Kaltim: Stigma Justru Hambat Penanganan

whatsapp image 2026 07 04 at 13.22.42
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Meningkatnya kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Samarinda yang telah menembus lebih dari 4.000 kasus mendorong berbagai pihak memperkuat upaya pencegahan dan pengobatan.

Di tengah sorotan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), karena diskriminasi justru menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pengendalian penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan penanganan HIV di Kalimantan Timur selama ini dilakukan secara terpadu bersama berbagai organisasi pendamping seperti Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), hingga dukungan Global Fund. Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga skrining bagi kelompok berisiko agar kasus dapat ditemukan sedini mungkin.

Menurutnya, setiap orang yang memiliki faktor risiko perlu menjalani pemeriksaan sehingga apabila dinyatakan positif HIV dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ART). Langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk mengendalikan virus sekaligus mencegah penularan lebih lanjut.

“Semua yang memang berisiko harus dilakukan pemeriksaan. Setelah itu diberikan pengobatan,” ujarnya, Sabtu (3/4/2026).

Jaya menjelaskan, terapi ART yang saat ini diberikan mampu menekan jumlah virus di dalam tubuh hingga berada pada tingkat yang sangat rendah, bahkan tidak terdeteksi. Kondisi tersebut membuat daya tahan tubuh penderita tetap terjaga sehingga mereka dapat menjalani aktivitas seperti masyarakat pada umumnya.

Karena itu, ia menegaskan HIV tidak identik dengan AIDS. Selama penderita disiplin menjalani pengobatan, kualitas hidup mereka tetap dapat dipertahankan dan perkembangan penyakit menuju AIDS dapat dicegah.

“Kalau yang sudah dinyatakan positif HIV lalu rutin menjalani pengobatan, mereka bisa bertahan sama seperti orang normal. Jangan sampai HIV berkembang menjadi AIDS hanya karena tidak diobati,” katanya.

Di sisi lain, Jaya menilai masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai cara penularan HIV. Ia menegaskan virus tersebut tidak mudah berpindah hanya karena berinteraksi, berbeda dengan penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC).

“Penularan HIV itu lebih sulit daripada TBC. Kalau TBC bisa melalui droplet atau udara, HIV tidak seperti itu,” tegasnya.

Ia menerangkan, penularan HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, maupun dari ibu kepada bayi apabila tidak mendapatkan penanganan medis selama kehamilan dan persalinan.

Karena itu, menurut Jaya, masyarakat tidak seharusnya mengucilkan ODHIV. Justru stigma dan diskriminasi sering kali membuat penderita enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan, sehingga berpotensi memperburuk upaya pengendalian HIV.

“Kalau mereka sudah menjalani pengobatan, tidak boleh ada diskriminasi. Yang harus kita lakukan adalah memastikan mereka tetap berobat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan tingginya perhatian terhadap kasus HIV di Samarinda. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pembahasan Raperda Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan TBC, jumlah kasus HIV di ibu kota Kalimantan Timur itu telah melampaui 4.000 kasus. Namun, baru sekitar 2.000 orang yang tercatat menjalani terapi pengobatan.

Melihat kondisi tersebut, Dinkes Kaltim terus mendorong masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap ODHIV dan lebih mengedepankan deteksi dini serta kepatuhan menjalani terapi.

Menurut Jaya, semakin banyak penderita yang mengetahui status kesehatannya dan rutin mengonsumsi obat, semakin besar pula peluang memutus rantai penularan HIV di Kalimantan Timur.

“Yang paling penting sekarang adalah menemukan kasus sedini mungkin, mengobatinya, dan memastikan mereka tetap menjalani terapi. Itu yang akan menjaga kualitas hidup pasien sekaligus mengendalikan penyebaran HIV,” tukasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *