merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Pabrik Pakan Ternak Kapasitas Produksi 200 Ton per Bulan Hadir di Kukar

photo 2026 05 19 18 18 39 (2)
Soft opening pabrik pakan ternak Desa Loleng Kota Bangun, oleh DPPKUKM Kaltim dan KADIN Kukar/Kaltim.(IST)

KALTIMVOICE.ID, KUKAR – Kehadiran pabrik pakan ternak di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun menjadi langkah strategis Kutai Kartanegara dalam mengurangi ketergantungan pasokan pakan dari luar daerah. Ya, Kutai Kartanegara kini resmi memiliki fasilitas pengolahan pakan ternak berkapasitas besar hingga ratusan ton per bulan.

Kehadiran pabrik ini menjadi tonggak baru dalam penguatan sektor pertanian dan peternakan daerah, sekaligus membuka peluang tumbuhnya ekosistem usaha berbasis hilirisasi. Meskipun telah memasuki tahap peninjauan dan soft opening, operasional pabrik saat ini masih jauh dari kapasitas maksimal. Produksi yang berjalan baru mencapai sekitar 10 persen dari total kemampuan produksi.

Pelaksana Tugas Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kutai Kartanegara, Dedi Sudarya, mengatakan fasilitas tersebut dirancang mampu memproduksi pakan ternak hingga 200 ton setiap bulan. “Pabrik tersebut sanggup produksi 200 ton per bulannya,” sebut Dedi Sudarya, Senin (18/5/2026).

Kapasitas produksi yang besar itu diyakini mampu menjawab kebutuhan peternak lokal yang selama ini masih bergantung pada pasokan pakan dari luar daerah, terutama untuk sektor peternakan ayam petelur dan ayam potong yang terus berkembang di Kukar.

Pabrik yang pembangunannya mendapat dukungan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kalimantan Timur itu berada dalam skema pengembangan Rumah Produksi Bersama (RPB). Nantinya, pengelolaan fasilitas ini akan sepenuhnya berada di bawah koperasi Desa Loleng.

Namun, sebelum dapat beroperasi secara penuh, sejumlah tantangan mendasar masih harus diselesaikan. Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan pasokan bahan baku utama yang menjadi komponen penting dalam formulasi pakan ternak.

“Masih kekurangan pasokan jagung, temu lawak jahe, limbah kepala udang dan ikan. Yang mana bagian tersebut komposisi penting pakan ternak,” ujarnya.

Bahan-bahan tersebut merupakan elemen penting dalam proses produksi karena menentukan kualitas nutrisi pakan yang dihasilkan. Selain persoalan bahan baku, tantangan lain yang dihadapi adalah kebutuhan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin produksi. Pabrik saat ini masih mengandalkan solar, sementara ketersediaannya tidak selalu stabil.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pengelola telah menyiapkan sejumlah alternatif energi yang dinilai lebih fleksibel dan mudah diakses.”Karena belum beroperasi secara penuh, kapasitas produksi saat ini baru sekitar 10 persen saja,” ungkapnya.

Alternatif bahan bakar yang tengah dipertimbangkan antara lain minyak goreng bekas, limbah minyak sawit, hingga oli bekas yang telah melalui proses tertentu.Dedi Sudarya yang akrab disapa Nala tetap optimistis pabrik ini dalam waktu dekat dapat beroperasi penuh.

Menurutnya, ketika produksi berjalan maksimal, dampak ekonominya akan meluas ke berbagai sektor. “Usaha pertanian peternakan perikanan hingga transportasi bakal ikut tumbuh dan bergerak, imbas dari adanya pabrik,” jelasnya. (dri)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *