KALTIMVOICE.ID, TENGGARONG – Mantan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) periode 2018–2023 Isran Noor, menghadiri Kaseh Selamat Milad ke-75 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Adji Muhammad Arifin, di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong.
Lama tak terlihat di media, sosok Isran tetap sama seperti dulu. Ia terlihat ramah, mudah tersenyum, dan luwes saat menyapa siapa saja yang ada disekitarnya. Kehadiran Isran seolah membuka tabir kenangan saat dirinya memimpin Benua Etam.
Acara ini juga menjadi momen reuni politik. Tampak hadir Hadi Mulyadi, mantan wakilnya, serta Seno Aji, yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Kaltim dan sebelumnya jadi lawan politik Isran–Hadi pada Pilkada Kaltim 2024, yang dimenangkan pasangan Rudy–Seno.
Dalam Pilkada 2024, pasangan nomor urut 02 Rudy–Seno meraih 55,7 persen suara, atau sekitar 997.344 suara, lebih unggul daripada pasangan nomor urut 01 Isran Noor–Hadi, yang memperoleh 44,3 persen suara, atau sekitar 793.322 suara.
Kehadiran mereka di satu tempat yang sama mengisyaratkan bahwa politik dan adat bisa berjalan berdampingan, meski pernah berada di kubu berbeda. Di sela-sela acara, Isran juga sempat menyampaikan pandangannya ketika ditanya arah politik tahun 2030 akankah ‘maju’ kembali memperebutkan kursi Gubernur.
“Aku ini enggak pernah mundur. Jalan ke samping saja enggak pernah, apalagi mundur. Jalan ke depan terus. Ya kan. Dorrrr,” ujarnya tiba-tiba mengejutkan awak media.
Disinggung mengenai kegiatannya saat ini, Isran hanya tersenyum dan menjawab bahwa kegiatannya banyak. “Banyak kegiatanku,” tegasnya singkat.
Salah satu kegiatannya, yakni kehadirannya di Kaseh Selamat Sultan Kutai Kartanegara XXI. Ia juga mengaku sempat menghadiri kegiatan serupa di Kesultanan Ternate. Menurut Isran Noor, momen seperti ini memberikan pengalaman berharga dalam memahami adat dan budaya nusantara.
“Saya baru-baru ini ke Kesultanan Ternate. Acara yang mirip seperti ini tapi dia bukan ulang tahun, acara para Kesultanan Keraton Nusantara. Budaya itu dijaga dan dihormati. Sultan di samping sebagai tokoh sentral dari sebuah kebudayaan yang dulunya merupakan sebuah kerajaan tertua di Republik ini. Maka kita harus menghargai itu,” jelasnya.
Pada Sabtu (31/1/2026), Isran juga terlihat hadir dalam sebuah acara di GOR Segiri Samarinda. Di sana, sejumlah wartawan ibu kota menanyakan pendapatnya soal wacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah, dari pilkada langsung oleh rakyat menjadi melalui DPRD.
Mantan Gubernur Kaltim ini menegaskan bahwa sikapnya menolak pilkada lewat DPRD sudah konsisten sejak menjabat Bupati Kutai Timur (Kutim) selama dua periode, yakni 2009–2011 dan 2011–2015.
Menurut Isran, pembahasan wacana tersebut sejauh ini masih tahap awal dan seharusnya ditangani oleh para tokoh bangsa yang punya integritas dan kepentingan nasional, bukan kepentingan politik semata.
“Sekarang kan baru wacana. Pasti nanti akan dibahas oleh para tokoh bangsa yang punya integritas dan kepentingan bangsa, bukan kepentingan politik,” jelasnya. “Ah, terserah saja. Itu bukan urusan saya. Saya ini komentar sebagai rakyat jelata,” tambahnya saat ditanya lagi soal kemungkinan terhadap pilkada lewat DPRD. (ldy)