KALTIMVOICE.ID SAMARINDA – Suara adzan subuh di Masjid Al-Husna selalu menjadi awal hari bagi Muhammad Zikri. Sejak lima tahun lalu, pemuda yang datang ke Samarinda sebagai pendatang ini mengabdikan dirinya sebagai marbut, merawat dan menjaga masjid tanpa pernah membayangkan akan merasakan pengalaman spiritual terbesar dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, namanya dipanggil sebagai salah satu penerima Program Jospol program umrah gratis dari Pemprov Kaltim yang kemudian mengantarnya menapaki Tanah Suci untuk pertama kalinya.
Zikri bercerita bahwa ia bukan warga asli Samarinda. Dia datang pada 2019 dan resmi pindah pada 2020, sejak awal, ia langsung tinggal dan membantu di Masjid Al-Husna. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dari tempat itulah takdir besar menjemputnya.
Perwakilan Pemprov Kaltim pendamping program datang langsung ke masjid dan memberitahukan bahwa namanya direkomendasikan untuk mengikuti program umrah gratis. Ia mengaku sempat tak percaya saat namanya terpilih.
Baginya, ada banyak marbut yang lebih senior, bahkan beberapa sudah terlebih dahulu didaftarkan. “Tidak disangka-sangka. Saya bersyukur sekali mendapat rekomendasi dari pengurus, padahal banyak yang lebih tua dan lebih lama mengabdi,” tuturnya.
Dukungan jamaah pun mengalir, membuat keberangkatannya terasa semakin ringan. Perjalanan ini memberi kesan mendalam. Bagi Zikri, bukan hanya umrah pertama, tetapi juga pertama kali naik pesawat.
Ia masih mengingat jelas ketegangan saat pesawat lepas landas, juga kekaguman ketika melihat langit dari ketinggian. Sesampainya di Tanah Suci, ia harus membiasakan diri dengan suasana yang jauh berbeda.
Cuaca yang panas di bulan Oktober membuat hari-harinya di sana terasa sangat asing namun penuh makna. Ritme tidur harus diatur, langkah-langkah kecil di antara ribuan jamaah terasa begitu menggetarkan.
Ia menggambarkan suasana di sana sebagai pengalaman yang tak mungkin ia bandingkan dengan kegiatan ibadah sehari-hari di masjid tempatnya bekerja. “Di sana, Masya Allah… ribuan orang salat bersama. Suasananya luar biasa, berbeda sekali dengan di sini. Komunikasi dengan orang luar juga kadang membingungkan, tapi itu pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.
Selama keberangkatan, seluruh pembiayaan ditanggung oleh Pemprov Kaltim, mulai dari tiket pesawat, paspor, penginapan, transportasi, hingga konsumsi. Ia hanya perlu menyiapkan sedikit biaya pribadi untuk oleh-oleh. Sisanya, semuanya mengalir sebagai bagian dari fasilitas program Jospol.
Di akhir ceritanya, Zikri menyampaikan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, dan seluruh jajaran Pemprov Kaltim. Program ini memberikan manfaat yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Mudah-mudahan segala program pemerintah ini terus dimudahkan dan bisa berkembang lagi,” ucapnya haru.
Ia berharap para marbut dan masyarakat lain yang belum mendapat kesempatan dapat merasakan hal serupa suatu hari nanti. “Semoga teman-teman yang belum merasakan juga bisa ikut merasakan dari program pemerintah ini,” tambahnya.
Bagi Zikri, perjalanan ini bukan hanya tentang menginjakkan kaki di Tanah Suci, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pengabdian sunyi di rumah ibadah bisa berbuah pengalaman yang mengubah hidup.
Program Jospol baginya adalah pintu kecil yang membuka kenangan besar kenangan yang akan ia bawa pulang, jaga, dan kenang sepanjang hayat.
(Adv/DiskominfoKaltim/ns)