KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Perjalanan hidup Mahmud Najmi, mahasiswa semester 1 UINSI Samarinda asal Berau, menjadi salah satu bukti bahwa peluang pendidikan kini semakin terbuka bagi siapa saja ketika pemerintah benar-benar hadir dan berpihak pada kepentingan rakyatnya.
Mahmud, satu dari sekian mahasiswa yang merasakan hadirnya Program Gratispol. Bukan sekadar bantuan biaya, melainkan pintu pembuka menuju kehidupan yang dulu hampir ia lepaskan karena keterbatasan ekonomi.
Mahmud tumbuh di Berau, daerah yang jauh dari pusat aktivitas pendidikan tinggi di Kaltim. Jarak, biaya, dan kondisi ekonomi keluarga membuat impian kuliah di Samarinda terasa nyaris mustahil ia wujudkan. Bahkan, pada awalnya keluarganya menyarankan ia tetap kuliah di daerah saja karena tidak mampu menanggung biaya hidup dan perkuliahan di luar.
Namun, perubahan besar datang ketika ia mendengar informasi tentang adanya bantuan Gratispol melalui sekolahnya. Kesempatan itu membuat Mahmud berani mengambil langkah yang sebelumnya tidak mungkin ia tempuh. “Awal saya tahu Gratispol itu adanya info dari sekolah,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Sebelum menerima bantuan, Mahmud harus menanggung UKT sebesar Rp4 juta per semester, angka yang untuk delapan hingga sembilan semester bisa mencapai lebih dari Rp26 juta. Bagi keluarganya, jumlah itu bukan sekadar beban, tetapi penghalang besar. “Jumlah UKT saya awalnya itu 4 juta, jumlah yang sangat besar bagi saya dan keluarga,” ujarnya.
Karena itu, ketika Gratispol hadir dan menanggung seluruh UKT-nya, hidupnya seolah mendapatkan cahaya baru. Ia bisa berkuliah di kampus yang sejak lama ia impikan tanpa lagi bergulat dengan kekhawatiran biaya.
“Saya merasa terbantu sekali dengan adanya Program Gratispol ini, membuat saya bisa berkuliah di Samarinda, tempat yang sudah saya inginkan dari dulu untuk berkuliah dan merantau. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, saya hampir batal berkuliah,” tuturnya.
Lebih dari sekadar bantuan biaya, Mahmud merasakan bahwa proses pendaftaran program ini juga tidak menyulitkan. Semua tahapan bisa ia jalani tanpa biaya tambahan yang memberatkan.
“Menurut saya proses untuk Program Gratispol ini sangat mudah, gampang saja mengisi berkas-berkasnya. Kita tinggal fotokopi lalu melengkapi berkas yang dibutuhkan, itu saja, tidak menambah banyak biaya,” jelasnya.
Kini, dengan beban finansial yang telah hilang, Mahmud mulai menata kembali rencana dan arah hidupnya.
Ia ingin suatu hari berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia di Kalimantan Timur, khususnya di bidang yang bisa membantu mahasiswa kurang mampu seperti dirinya. Program yang mengubah hidupnya, katanya, seharusnya bisa dirasakan lebih banyak anak muda Kaltim.
Lebih lanjut, Mahmud menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada pemerintah daerah yang telah menghadirkan program yang ia sebut sebagai penyelamat pendidikan banyak mahasiswa.
“Teruntuk Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur, saya mewakili mahasiswa UINSI Kalimantan Timur berterima kasih sebesar-besarnya atas adanya Program Gratispol ini karena sangat membantu kami. Entah itu buat teman-teman saya yang merasa kesusahan, saya merasa berterima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Gubernur dan Wakil Gubernur. Terima kasih, Pak,” ungkapnya.
Bagi Mahmud, Gratispol adalah titik balik, awal baru yang memberi ruang baginya untuk bermimpi, tumbuh, dan suatu saat kembali memberi. Dari seorang pemuda yang hampir tidak melanjutkan kuliah, kini ia menjadi bagian dari generasi baru Kalimantan Timur yang siap melangkah lebih jauh. (adv/diskominfokaltim/ns)