KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat fokus pengembangan industri berbasis komoditas lokal melalui pendirian sentra industri pisang, kakao, dan karet. Langkah ini menjadi bagian penting dari 50 program prioritas Bupati Kutim untuk mendorong ekonomi non-tambang yang lebih berkelanjutan.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, mengatakan, sejumlah kecamatan telah memiliki kapasitas komoditas yang cukup kuat. Kaubun dan Kaliorang, misalnya, menjadi pusat pengembangan industri berbasis pisang. “Bukan hanya bahan mentah yang dijual. Pisang ini sudah diolah menjadi susu pisang, keripik, dan bahkan frozen product seperti Fruity Boks dan Kalbana,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Dua produk terakhir bahkan sudah memasuki pasar nasional, dan Fruity Boks disebut telah diekspor hingga Belgia. Dalam konsep sentra industri, pemerintah ingin membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir. Petani tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi ikut serta dalam rantai produksi dan pemasaran. “Kalau hanya menjual pisang mentah, nilai tambahnya kecil. Tapi saat diolah, nilainya bisa meningkat beberapa kali lipat,” jelas Nora.
Selain pisang, pengembangan kakao dan karet juga menjadi prioritas. Kakao Kutim dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bubuk cokelat, cokelat blok, hingga produk siap konsumsi. Sementara karet dapat dikembangkan menjadi produk turunan yang digunakan industri manufaktur.
Namun, pengembangan sentra industri tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan kapasitas IKM, kekurangan peralatan produksi, hingga perlunya pembinaan teknis menjadi hambatan yang harus diatasi. Pemerintah memastikan pendampingan intensif dilakukan agar pelaku usaha dapat naik kelas.
Ia menegaskan, program ini tidak hanya menghidupkan ekonomi lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja di desa-desa. Pemerintah berharap industrialisasi berbasis komoditas lokal menjadi motor penggerak ekonomi baru Kutim. (adv/diskominfokutim/yud)