KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Masa-masa sulit tengah menimpa cabang olahraga atletik di Kalimantan Timur (Kaltim). Para atlet dan pelatih lari kini menghadapi kebuntuan akibat kebijakan baru Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim yang menetapkan retribusi penggunaan lintasan atletik di GOR Kadrie Oening, Samarinda.
Kebijakan tersebut dinilai menambah beban bagi para atlet yang selama ini berjuang dengan fasilitas terbatas. Kondisi ini sekaligus menyoroti minimnya sarana latihan layak di Bumi Etam. Dampak dari kebijakan itu membuat perhatian beralih ke Stadion Segiri yang selama ini identik dengan sepak bola. Namun, stadion tersebut ternyata juga belum bisa menjadi solusi.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Muslimin, menegaskan bahwa Stadion Segiri tidak memiliki lintasan atletik yang sesuai standar.“Area tepi lapangan di Stadion Segiri terbuat dari beton, jadi tidak cocok untuk lari,” sebut Muslimin, Senin (6/10/25).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pihaknya tidak membuka akses Stadion Segiri untuk kegiatan atletik. “Memang tidak untuk umum, bahkan berbayar sekalipun kami tidak perbolehkan karena memang tidak bisa untuk lari,” jelasnya.
Dirinya menuturkan, Stadion Segiri kini bersifat eksklusif karena menjadi markas klub sepak bola Borneo FC Samarinda. “Itu kandangnya Borneo, jadi ada fasilitas khusus mereka juga di sana, itu juga yang kami jaga,” ujarnya.
Kepala UPTD Pengelolaan Prasarana Olahraga (PPO) Dispora Kaltim, Junaidi, menjelaskan bahwa penarikan retribusi di Stadion Madya Sempaja dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2024 tentang retribusi pajak.“Penggunaan lintasan atletik diatur dalam perda tersebut, jadi ada retribusi kalau ingin digunakan,” terang Junaidi.
Kini, dunia atletik Kaltim berada di persimpangan. Di satu sisi, pemerintah mendorong peningkatan prestasi olahraga. Namun, di sisi lain, fasilitas latihan justru semakin sulit diakses. (yud)