KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghentikan seluruh program pelatihan bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) sepanjang tahun anggaran 2025-2026. Kebijakan efisiensi ini terpaksa dilakukan akibat keterbatasan fiskal daerah, meski kebutuhan pembinaan dan peningkatan kapasitas pelaku IKM justru mengalami kenaikan signifikan.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, mengatakan, penghentian pelatihan merupakan pukulan besar bagi perkembangan IKM. “Di tahun 2024 saja kami melaksanakan hampir 10 gelombang BIMTEK. Tahun depan tidak ada satu pun anggaran untuk itu. Ini berat sekali,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Ia menegaskan, pelatihan bukan sekadar kegiatan seremonial atau penghabisan anggaran, melainkan investasi kualitas. Banyak IKM Kutim yang masih menghadapi keterbatasan kompetensi, mulai dari digital marketing, pengemasan, tata boga, hingga standardisasi produk. “Kalau pembinaan berhenti, IKM bisa tertinggal di era digital ini,” katanya.
Tidak adanya anggaran membuat berbagai program seperti kunjungan belajar, pelatihan desain kemasan, hingga pendampingan pemasaran digital tidak dapat dijalankan. Padahal, sebagian produk unggulan Kutim membutuhkan pembinaan berkelanjutan agar dapat masuk pasar modern.
Dirinya menyebut, pemerintah hanya bisa melakukan pendampingan non-anggaran berupa konsultasi dan koordinasi lintas OPD. Namun ia mengakui pendekatan tersebut tidak seefektif pelatihan terstruktur. Program berbasis klaster seperti IKM pisang, kakao, dan pangan olahan juga terpaksa ditunda.
Ia menegaskan, IKM adalah nafas ekonomi jangka panjang Kutai Timur. Tanpa pembinaan, upaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor tambang akan melambat. Pemerintah berharap anggaran dapat kembali normal pada tahun berikutnya agar pelatihan dapat dilanjutkan. (adv/diskominfokutim/yud)