KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam menekan angka stunting berhasil membuahkan hasil menggembirakan. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah (Surkesda) 2025, prevalensi stunting di Kutim turun menjadi 13,8 persen, dari sebelumnya 21 persen pada 2022. Penurunan hampir 7,2 persen dalam tiga tahun ini menempatkan Kutim sebagai daerah dengan penurunan tercepat di Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, mengatakan capaian ini merupakan hasil kerja lintas sektor, melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, TP-PKK, dan pemerintah desa. “Stunting bukan hanya soal gizi, tapi juga pola asuh, sanitasi, dan edukasi. Karena itu, kita bergerak bersama,” ujarnya, Sabtu (22/11/25).
Program utama difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu masa krusial sejak ibu hamil hingga anak berusia dua tahun. Dinas Kesehatan memperkuat layanan posyandu, pemeriksaan kehamilan, distribusi makanan tambahan, dan tablet penambah darah bagi ibu hamil. “Kalau intervensi dilakukan sejak dini, anak-anak akan tumbuh lebih sehat dan cerdas,” jelasnya.
Selain itu, Kutim juga meluncurkan Gerakan Remaja Sehat Bebas Anemia untuk mencegah risiko stunting sejak remaja. Program ini menyasar siswi sekolah menengah agar memiliki status gizi yang baik sebelum menikah dan hamil.
“Target nasional menurunkan stunting menjadi 14 persen di 2024 sudah kami lewati lebih cepat,” ujar Sumarno bangga.
Menurutnya, langkah ke depan adalah mempertahankan capaian dan memperkuat edukasi keluarga. “Kami ingin memastikan Kutim tidak hanya bebas stunting, tapi juga melahirkan generasi sehat dan produktif,” katanya.
Penurunan signifikan ini menjadi bukti keberhasilan pendekatan gizi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan kesehatan masyarakat Kutim. (adv/diskominfokutim/yud)