KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjelaskan alasan dirinya tidak menemui massa aksi saat Aksi 214 di Kantor Gubernur Kaltim. Penjelasan itu disampaikannya saat konferensi pers bersama awak media di Hotel Claro Pandurata, eks Hotel Atlet, Jalan Wahid Hasyim, Kompleks Gelora Kadrie Oening, Kecamatan Sempaja Selatan, Kamis (23/4/2026).
Dalam keterangannya, Rudy menegaskan bahwa sejak awal pihaknya tidak menutup ruang komunikasi. Namun, ia memilih tidak berdialog di tengah kerumunan massa dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan protokoler.
“Saya sudah menyampaikan bahwa kita siap untuk berdialog, tapi tidak di kerumunan massa. Satu karena keamanan, kedua berkaitan dengan protokoler, tetapi saya menawarkan siap untuk berdialog,” ujarnya.
Rudy menyebut, pemerintah provinsi justru membuka ruang dialog yang lebih kondusif agar pembahasan bisa berjalan efektif dan menghasilkan solusi konkret.
Menurutnya, suasana lapangan saat aksi berlangsung tidak mendukung untuk diskusi yang produktif. Aksi yang berlangsung hingga menjelang malam itu bahkan diwarnai insiden pelemparan terhadap aparat keamanan setelah massa mulai membubarkan diri.
Rudy mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut, di mana botol minuman, plastik, hingga batu dilempar ke arah petugas. “Setelah massa membubarkan diri sekitar pukul 18.00 WITA, terjadi pelemparan botol, plastik, bahkan batu ke aparat. Saya menyaksikan langsung di lokasi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan utama dirinya tidak turun ke tengah massa. Ia menilai, dialog dalam situasi yang memanas justru tidak akan menghasilkan keputusan yang solutif.
Di sisi lain, Rudy juga menekankan bahwa setiap kebijakan pemerintah harus didasarkan pada data, bukan respons spontan di lapangan. “Kita tidak bisa memutuskan sesuatu di situ. Semua harus berbasis data, tidak bisa asal bicara,” tegasnya.
Meski tidak bertemu langsung di lokasi aksi, Rudy memastikan bahwa pemerintah tetap terbuka terhadap seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat. Ia bahkan menyebut pintu komunikasi selalu terbuka bagi mahasiswa maupun aliansi.
“Kami membuka pintu kantor gubernur, rumah jabatan gubernur 1×24 jam untuk berdialog. Kami ingin semua aspirasi disampaikan dalam suasana yang lebih tenang dan konstruktif,” katanya.
lebih lanjut, Rudy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas daerah dan bersinergi dalam membangun Kalimantan Timur. “Kami mendengarkan semua aspirasi, dan kami ingin seluruh elemen masyarakat menjadi mata dan telinga dalam membangun Kalimantan Timur, dengan tetap menjaga sinergi bersama.” tutup Rudy. (mell)