merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

12 Tahun Merawat Gereja, Kini Syahri Menggenggam Kesempatan Perjalanan Religi karena Program Jospol

img 20251129 wa0008
Syahri Penjaga Rumah Ibadah Gereja Katolik Santo Pius, Tenggarong. (istimewa/dokumentasi pribadi)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Setiap pagi, sebelum umat datang dan sebelum lonceng gereja dibunyikan, Syahri sudah lebih dulu berada di halaman Gereja Katolik Santo Pius, Tenggarong. Ia mengecek pintu, menyapu halaman, menata altar, memastikan setiap sudut siap menyambut jemaat yang akan beribadah.

Sejak 2012, ia menjadi penjaga rumah ibadah yang setia, tanpa banyak bicara, tanpa sorotan, hanya menjalankan tugas yang baginya adalah bentuk pelayanan. Di tengah rutinitas yang ia jalani selama lebih dari satu dekade itu, beberapa minggu terakhir hadir kabar yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Namanya terdaftar sebagai salah satu penerima manfaat program Jospol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Program itu membuka peluang bagi penjaga rumah ibadah untuk mendapatkan kesempatan perjalanan religi, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka. Ketika ditanya bagaimana ia bisa terdaftar dalam program tersebut, Syahri menjelaskan bahwa semuanya berawal dari pengurus gereja.

“Saya kemarin dimasukkan sama Pak Frans. Beliau yang mengurus di sekretariat gereja. Saya bilang, saya ikut saja kalau memang bisa. Jadi saya yang dimasukkan sebagai koster dari Gereja Katolik Santo Pius, Tenggarong,” tuturnya, Minggu (07/12/2025).

Meski terdaftar, jadwal keberangkatan masih menunggu jadwal. Sebab, Syahri mendapatkan urutan keberangkatan pada kloter kedua. “Untuk keberangkatannya itu belum. Saya dengar katanya mungkin gelombang kedua, tapi belum pasti juga. Soalnya gelombang pertama saja belum berangkat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ada sedikit kendala administrasi, khususnya terkait NPWP yang harus diperbarui. “Saya sempat buat NPWP, tapi HP saya ganti dan saya lupa password sama email. Jadi itu yang harus saya urus lagi,” katanya sambil tersenyum kecil.

Syahri menilai proses pendaftaran tidak terlalu rumit. Hanya beberapa formulir dasar yang perlu diisi, termasuk surat pernyataan. Semua dibantu oleh pengurus gereja sehingga tidak menjadi beban baginya.

Program Jospol yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Kaltim, baginya bukan sekadar program bantuan. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap mereka yang selama ini bekerja menjaga ketenangan dan kebersihan rumah ibadah. Peran yang senyap, kerap tak terlihat, tetapi sangat berarti bagi umat.

Saat ditanya pandangannya mengenai program tersebut, Syahri menyampaikan apresiasinya. “Menurut saya bagus sekali. Kita ini belum pernah jalan-jalan seperti itu. Kalau ada kesempatan, ya senang, bisa menambah wawasan juga,” ucapnya.

Sebagai penjaga gereja selama lebih dari 12 tahun, kesempatan itu terasa sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian yang ia jalani dalam diam. Ia tidak meminta banyak, namun ia berharap program itu terus berlanjut agar lebih banyak penjaga rumah ibadah yang mendapatkan kesempatan serupa.

“Semoga ini bisa berlanjut ke depannya, agar banyak yang bisa merasakan manfaatnya,” tutupnya. (Adv/DiskominfoKaltim/ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *