KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Di tengah beragam kritik terhadap efektivitas proyek infrastruktur daerah, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Samarinda tetap berpegang pada komitmen membangun fasilitas publik yang aman dan ramah anak. Pembangunan taman bermain atau playground di sejumlah titik kota menjadi salah satu upaya nyata menghadirkan ruang rekreasi keluarga yang mendidik dan inklusif.
Proyek yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2023 itu menyebar di 11 lokasi berbeda, dengan total anggaran sekitar Rp4,6 miliar. Meski sempat menuai kritik publik yang menuding adanya dugaan mark up, Disperkim memastikan seluruh prosesnya dijalankan sesuai prosedur dan hasilnya dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Disperkim, Novian Azwari, menegaskan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari program pembangunan ruang publik ramah anak yang dirancang melalui perencanaan matang dan mekanisme pengadaan terbuka. “Total nilai kontrak sekitar Rp4,6 miliar untuk dua paket pekerjaan di 11 titik lokasi. Jadi, rata-rata satu playground bernilai sekitar Rp409 juta,” jelasnya, Sabtu (8/11/2025).
Novian menerangkan bahwa dana tersebut tidak hanya digunakan untuk pengadaan alat bermain, tetapi juga mencakup sarana penunjang seperti pagar pengaman, lantai karet, bangku taman, penerangan, dan identitas taman.
Semua komponen, kata dia, disusun berdasarkan kajian teknis dan perbandingan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) agar sesuai dengan harga pasar. “Tidak ada mark up dalam kegiatan ini. Semua sudah melalui mekanisme resmi dan pengawasan ketat,” tegasnya.
Kepala Dinas Perkim Samarinda, Herwan Rifai, menambahkan bahwa proyek playground tersebut diawasi secara ketat sejak tahap awal hingga akhir. Selain melibatkan konsultan pengawas, pelaksanaannya juga berada di bawah pemantauan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
“Pengawasan dilakukan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga serah terima pekerjaan. Proses pengadaannya pun melalui lelang terbuka, bukan penunjukan langsung,” ujarnya.
Herwan menyebut pembangunan taman bermain bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga bagian dari upaya pemerintah menyediakan ruang publik yang aman, edukatif, dan memperkuat interaksi sosial di tengah masyarakat kota. “Playground bukan hanya alat bermain, tapi juga ruang interaksi sosial dan rekreasi keluarga yang aman dan mendidik,” tambahnya.
Selain membangun fasilitas, Disperkim turut melakukan sosialisasi kepada warga di sekitar lokasi agar mereka memahami fungsi serta ikut menjaga keberlangsungan taman. Upaya ini dilakukan agar fasilitas publik tersebut tidak hanya bermanfaat saat peresmian, tetapi juga terus hidup di tengah masyarakat.
Salah satu warga yang merasakan manfaat kehadiran taman bermain itu adalah Rifan, pelajar SMA Islam Samarinda. Ia kerap datang ke taman seusai sekolah untuk bersantai dan bertemu teman.“Kadang-kadang kalau lagi bosan, ke sini aja. Tempatnya enak buat santai sama teman-teman,” ujarnya.
Rifan mengaku, wahana ayunan dan kursi taman menjadi area favorit banyak pengunjung muda. Ia pun berharap agar pemerintah menambah permainan baru agar taman semakin menarik bagi pelajar sepertinya. “Mungkin bisa ditambah yang mutar-mutar itu, kayak mangkok putar,” katanya.
Bagi Rifan dan banyak anak muda lainnya, taman bermain tersebut telah menjadi alternatif hiburan sederhana namun bermakna di tengah padatnya aktivitas belajar. “Kalau capek belajar, bisa ke sini cari hiburan bareng teman,” pungkasnya. (ns)