merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Petani Kaltim Dipaksa Hidup “Besar Pasak dari Tiang” pada 2025, Begini Penjelasan Badan Statistik

img 20260121 wa0018
Foto: ilustrasi

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Tekanan biaya hidup dan produksi mulai dirasakan rumah tangga petani di Kalimantan Timur pada akhir 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kaltim pada Desember 2025 berada di angka 147,89, turun 0,30 persen dibandingkan November 2025. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya beban pengeluaran petani yang tidak sepenuhnya diimbangi kenaikan harga hasil pertanian.

Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan, penurunan NTP dipicu oleh laju kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It).“Indeks Harga yang Diterima Petani hanya naik sebesar 0,13 persen, sementara Indeks Harga yang dibayar Petani meningkat 0,43 persen,” ungkap Yusniar dalam keterangan resminya, Rabu (21/1/26).

Ia menyebutkan, kenaikan Ib dipengaruhi meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga petani, termasuk kebutuhan sehari-hari, serta biaya produksi dan penambahan barang modal. Di sisi lain, kenaikan harga hasil produksi pertanian dinilai masih terbatas sehingga belum cukup kuat menahan tekanan terhadap NTP.

Meski secara bulanan mengalami koreksi, kondisi petani di Kalimantan Timur secara tahunan masih menunjukkan perbaikan. BPS mencatat NTP Desember 2025 meningkat 1,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Desember 2024.

Jika ditinjau per subsektor, tidak semua komoditas mengalami tekanan yang sama. Tiga subsektor tercatat mengalami penurunan NTP, yakni subsektor tanaman pangan sebesar 0,03 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,13 persen, serta subsektor perikanan sebesar 0,34 persen. Sementara itu, subsektor hortikultura justru mencatat kenaikan cukup signifikan sebesar 3,62 persen, disusul subsektor peternakan yang naik 0,78 persen.

Selain NTP, BPS Kaltim juga mencatat perkembangan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang menggambarkan kelayakan usaha pertanian. Pada Desember 2025, NTUP tercatat sebesar 153,93 atau turun 0,13 persen dibandingkan November 2025 yang berada di angka 154,13.

Penurunan NTUP terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,84 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,14 persen. Namun demikian, subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan masih menunjukkan tren positif dengan masing-masing kenaikan NTUP sebesar 0,14 persen, 3,23 persen, dan 1,05 persen.

Kondisi ini menunjukkan, meski daya tukar petani di Kaltim masih berada pada level relatif tinggi, tekanan biaya produksi dan konsumsi tetap menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi subsektor yang mengalami penurunan kinerja di akhir tahun. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *