merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Pemkot Samarinda Gandeng Kampus Luar Negeri Petakan Banjir, Isu Perubahan Iklim Jadi Kajian

whatsapp image 2026 02 02 at 14.57.35
Salah satu titik banjir di Kota Samarinda (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Kota Samarinda mulai memperkuat upaya penanganan banjir melalui kerja sama internasional. Pemerintah Kota Samarinda menggandeng Universitas Waterloo dan proyek Flood Impacts, Carbon Pricing and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) untuk melakukan kajian risiko banjir yang menitikberatkan pada dampak perubahan iklim.

Project Officer Flood Risk, Mawardi Muhammad, menyebut kajian ini merupakan tahap awal kerja sama antara Universitas Waterloo dan Pemerintah Republik Indonesia dalam pemetaan risiko banjir. “Ini kegiatan awal kerja sama kami. Kajian risiko banjir akan memasukkan indikator perubahan iklim dan dimodelkan berdasarkan data banjir hingga 50 tahun terakhir untuk memproyeksikan dampaknya pada berbagai skenario curah hujan,” ujarnya, Senin (2/1/2026).

Menurut Mawardi, proyeksi ini akan memperhitungkan skenario perubahan iklim, misalnya peningkatan suhu 2 derajat Celsius, dan melihat dampaknya untuk jangka 10, 25, 50, hingga 100 tahun ke depan. Kajian ini juga mempertimbangkan pemanfaatan fasilitas publik sebagai wilayah tangkap air, seperti lapangan bola atau taman, yang dapat direkayasa agar menampung air hujan saat terjadi curah tinggi, kemudian kembali bisa digunakan saat kering.

“Lapangan bola bisa difungsikan untuk menampung air hujan, lalu kembali digunakan setelah surut. Ini membantu meminimalkan banjir di sekitarnya,” tuturnya.

Ia menyebut bahwa penyebab banjir di Samarinda paling dominan adalah kombinasi curah hujan tinggi dan pasang surut. Jika pasang surut tinggi, air akan meluap ke daerah yang rentan, sementara peningkatan curah hujan menyebabkan genangan di wilayah rawan banjir. “Dalam kajian nanti, akan ada skenario tambahan seperti El Niño atau siklon tropis, untuk melihat bagaimana risiko banjir berubah di berbagai kondisi ekstrem,” jelasnya.

Hasil kajian ini diharapkan memberikan rekomendasi baik dari sisi infrastruktur maupun non-infrastruktur. Infrastruktur misalnya perbaikan drainase, pembangunan pintu air, atau pengaturan aliran air. Sementara sisi non-infrastruktur bisa berupa penanaman pohon di hulu, menjaga lahan gambut, dan pengelolaan resapan air untuk meningkatkan penyerapan.

Selain itu, kajian ini juga akan mempertimbangkan dampak pembangunan perumahan terhadap banjir. Tim peneliti akan menganalisis apakah lokasi tertentu cocok untuk pemukiman atau perlu direlokasi.

“Untuk solusi jangka panjang, kami masih di tahap awal. Nanti akan ada rekomendasi teknis dan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat, karena genangan yang sering dianggap sepele sebenarnya berulang dan memengaruhi pola hidup warga,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *