KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat sejarah baru di sektor pertanian setelah sejumlah wilayah berhasil menanam dan memanen padi hingga tiga kali dalam satu tahun. Capaian ini sangat signifikan mengingat sebagian besar wilayah Kutim sebelumnya hanya mampu melakukan tanam satu kali setahun akibat keterbatasan air dan proses pengolahan lahan yang memakan waktu.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan, pencapaian tersebut terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki akses air cukup, seperti Kaubun, Kombeng, dan Long Mesangat. “Tahun ini, untuk pertama kalinya petani di beberapa titik bisa tanam padi tiga kali. Ini capaian besar bagi Kutim,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Dyah menjelaskan, perubahan pola tanam ini dimungkinkan berkat penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Traktor dan combine harvester membuat waktu olah tanah yang biasanya membutuhkan 3–4 hari dapat dipangkas menjadi hanya 3–4 jam. “Waktu olah lahan yang lebih cepat membuat petani bisa segera menanam setelah panen. Ini faktor krusial untuk mencapai tiga musim tanam,” jelasnya.
Selain traktor dan mesin panen, petani juga mendapat bantuan mesin tanam (transplanter) serta drone penyemprotan dari Bank Indonesia. Drone tersebut mampu menyemprot 1 hektare lahan hanya dalam 10 menit, sehingga petani tidak lagi mengandalkan tenaga manual yang lambat dan melelahkan.
Menurut Dyah, peningkatan frekuensi tanam menjadi peluang besar untuk meningkatkan produksi beras lokal, yang selama ini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kutim. “Kalau sistem ini bisa diperluas ke daerah lain, produksi padi Kutim bisa naik secara signifikan. Kita mungkin belum swasembada, tapi gap kebutuhan bisa semakin mengecil,” katanya.
Meski begitu, ia mengingatkan, keberhasilan ini masih sangat bergantung pada ketersediaan air. Tidak semua kecamatan memiliki irigasi yang memadai sehingga perlu dukungan lintas dinas untuk memperluas sistem irigasi. “Modernisasi alat sudah terbukti berhasil. Tantangan ke depan adalah memastikan air tersedia. Jika dua hal ini berjalan seimbang, produktivitas padi Kutim akan terus naik,” tutupnya. (adv/diskominfokutim/yud)