KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Hutan Kalimantan Timur menyimpan kekayaan berupa “emas manis” yang mengangkat nama daerah hingga mancanegara. Melalui usaha Istana Lebah Balikpapan, Abdurrahman Mochtar berhasil mengolah madu hutan menjadi produk bernilai tinggi dengan permintaan terus meningkat.
“Alhamdulillah, kami dulu belajar di Pusat Perlebahan Pramuka Jawa Tengah, dibiayai pemerintah Kota Balikpapan, tentang lebah Apis mellifera dan Serana. Terus lebah Trigona saya belajar di Makassar, di Ratu Trigona Makassar dan KUD Batu Malang,” ujarnya, Kamis (28/8/25).
Usaha madu yang ia jalani telah berjalan lebih dari dua dekade. Pria ini mengembangkan tiga jenis madu lebah utama, mulai dari Apis dorsata, Apis mellifera, hingga Trigona. Tidak hanya dari budidaya, sebagian madu bahkan dipanen langsung dari hutan Kalimantan Timur, seperti di Hutan Batu Dinding, Hutan Lindung Sungai Wain, dan Kendang Ipil.
“Lebah madu kita ngambil di arah Kalimantan Timur dan lebah hutan, daerah Batu Dinding, Hutan Lindung Sungai Wain, sama Kendang Ipil. Adapun yang Apis dorsata itu kita manjat di pohon dengan ketinggian 60 meter sampai 70 meter,” jelasnya.
Skala produksi usaha madunya pun tidak main-main. Di Penajam Paser Utara saja, ia memiliki ratusan kotak lebah Apis mellifera dan Apis dorsata yang sanggup menghasilkan hingga 600 ton madu per tahun.
“Kita di Penajam Paser Utara itu 600 ton. Jadi satu sarang lebah Apis mellifera ini perkotak hampir 8 kilo. Jadi tinggal kalikan saja, 8 kilo kali sekian ratus sarang. Nah, lebah hutan Apis dorsata itu satu sarang bisa menghasilkan madu sampai 30 kilo per tahun,” bebernya.
Tidak hanya madu, ia juga memanfaatkan lilin lebah untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi. Bahan ini kerap digunakan untuk kosmetik hingga batik, bahkan mendapat permintaan dari Pekalongan, Malaysia, dan Singapura. Dengan berbagai inovasi itu, pendapatan Abdurrahman melonjak tajam.
“Kadang sebulan saya penjualan madu itu biasanya Rp3 juta. Sekarang, Alhamdulillah per bulan itu hampir Rp60 juta. Apalagi, waktu Covid-19 permintaan madu banyak sampai Rp200 juta per bulan. Nah, waktu expo di Pajajaran, penjualan madu sampai Rp700 juta,” katanya.
Produk Istana Lebah Balikpapan kini tersedia berbagai ukuran dengan harga terjangkau, mulai Rp15 ribu hingga Rp200 ribu per botol. Pemasaran pun dilakukan secara luring dan daring, menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. “Untuk Samarinda ada, untuk Balikpapan ada, bisa pengiriman dari Balikpapan atau ke Samarinda. Online-nya ada. Nama tokonya Istana Lebah Balikpapan,” tutupnya. (yud)