KALTIMVOICE.ID, PASER – Pulau Kalimantan dikenal memiliki kekayaan hayati yang melimpah, termasuk beragam jenis tanaman dan buah endemik yang tidak ditemukan di wilayah lain. Namun, seiring waktu, sejumlah buah khas Kalimantan kini semakin sulit dijumpai. Salah satunya adalah buah lahung atau durian hutan yang memiliki nama ilmiah Durio dulcis.
Buah lahung tergolong buah musiman yang hanya muncul pada periode tertentu, umumnya saat musim panas. Kondisi ini membuat keberadaannya semakin langka di pasaran. Tidak seperti durian pada umumnya, buah lahung memiliki ciri khas yang cukup mencolok dari segi tampilan maupun aroma. Kulit buahnya dipenuhi duri tipis dengan panjang sekitar 15 hingga 20 milimeter dan berwarna merah tua hingga cokelat kemerahan.
Meski masih satu genus dengan durian, aroma buah lahung tidak menyengat. Baunya relatif lembut dan tidak terlalu tajam sehingga kerap dianggap lebih ramah bagi mereka yang kurang menyukai aroma durian pada umummnya. Dari sisi rasa, buah ini juga memiliki karakter unik. Daging buahnya tidak terlalu manis, cenderung hambar, namun memiliki tekstur berlemak yang khas saat dikonsumsi.
Pohon lahung sendiri dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 40 meter. Selain buahnya, kayu dari pohon ini juga memiliki nilai guna karena dapat diolah menjadi papan kayu. Hal tersebut menjadikan lahung sebagai tanaman yang memiliki manfaat ganda, baik dari sisi pangan maupun material.
Di pasaran, harga buah lahung bervariasi tergantung ukuran. Buah berukuran kecil hingga sedang, harga berkisar Rp25.000 per buah, sementara ukuran besar dapat mencapai Rp50.000. Meski demikian, tidak semua daerah menjual buah ini. Lahung lebih sering dijumpai di wilayah tertentu, terutama daerah yang masih memiliki hutan alami.
Di kawasan Gunung Rambutan, buah lahung masih dapat ditemui pada musimnya. Beberapa penjual menjajakan buah yang satu ini. Kehadiran para penjual tersebut menjadi salah satu cara agar buah endemik ini tetap dikenal masyarakat.
Selain cita rasanya yang unik, buah lahung juga dipercaya memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Di antaranya membantu melancarkan pencernaan, meningkatkan nafsu makan, hingga membantu meredakan stres. Oleh karena semakin langka dan tak mudah didapat, menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian buah khas Kalimantan ini.
Dengan semakin terbatasnya habitat alami dan minimnya budidaya, keberadaannya tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas alam dan budaya lokal yang semakin jarang ditemui. (yud)