merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Jejak Dakwah dan Sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem yang Bertahan Lebih dari Seabad di Samarinda

img 20260219 wa0053
Masjid Shirathal Mustaqiem yang berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang, telah berdiri kokoh lebih dari satu abad. (Foto: mell/Kaltimvoice.id) Ket. Foto:

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan “Masjid Tua”. Bukan sekadar julukan, Masjid Shirathal Mustaqiem telah berdiri kokoh dan menjadi saksi perjalanan sejarah lebih dari satu abad di tepian Sungai Mahakam.

Berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan jejak sejarah yang hidup di tengah masyarakat.

Masjid ini memiliki luas sekitar 625 meter persegi dengan teras sepanjang 16 meter. Lantai, pilar utama, hingga atap sirapnya terbuat dari kayu ulin yang didatangkan dari Karang Mumus dan Kutai Lama. Nilai historis dan arsitekturalnya yang tinggi membuat bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

img 20260219 wa0054
Pengurus Masjid Shirathal Mustaqiem, Ishak Ismail. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

Pada 2001, masjid ini pernah direhabilitasi pada masa Wali Kota Samarinda Achmad Amins. Momen tersebut diabadikan melalui sebuah tugu yang berdiri di halaman masjid.

Awal Berdiri dan Peran Pangeran Bendahara

Pengurus masjid, Ishak Ismail, menjelaskan bahwa masjid ini didirikan pada 1881 oleh ulama sekaligus saudagar Muslim asal Pontianak, Sayid Abdurachman bin Assegaf, yang dikenal dengan gelar Pangeran Bendahara. Untuk mengenang jasanya, nama tersebut kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kecamatan Samarinda Seberang.

Kehadiran masjid pada masa itu menjadi titik balik kehidupan sosial masyarakat setempat. Wilayah Samarinda Seberang sebelumnya dikenal sebagai “Kampung Maksiat” yang diwarnai praktik sabung ayam dan perjudian. “Masjid ini didirikan tahun 1881 oleh Pangeran Bendahara sebagai upaya memperbaiki kondisi masyarakat saat itu,” kata Ishak.

Kisah Empat Soko Guru dan Pembangunan Masjid

Dalam proses pendiriannya, Pangeran Bendahara tidak sendiri. Ia didampingi tiga tokoh masyarakat, yakni Kapitan Jaya, Pettaloncong, dan Lusulunna. Keempat nama tersebut diabadikan dalam empat tiang utama masjid yang hingga kini masih berdiri kokoh sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.

Ishak menuturkan, pembuatan empat tiang utama atau soko guru menjadi bagian paling sulit dalam proses pembangunan. Tiang berdiameter sekitar 60 sentimeter dengan tinggi lebih dari 10 meter. Kesulitan tersebut melahirkan kisah yang terus diceritakan secara turun-temurun.

“Konon saat musyawarah, datang seseorang berusia lanjut dan berpakaian putih yang disebut seperti nenek-nenek dan menawarkan bantuan mendirikan tiang dengan syarat tidak boleh diintip,” tuturnya, Kamis (19/2/2026).

Menurut cerita, sebelum matahari terbit, masyarakat mendapati keempat tiang tersebut telah berdiri tegak. Sebagian masyarakat meyakini peristiwa itu sebagai kisah spiritual yang menjadi bagian dari sejarah dan kearifan lokal masjid.

Pembangunan masjid berlangsung sekitar sepuluh tahun hingga rampung pada 1891. Menara masjid kemudian didirikan oleh seorang Belanda mualaf bernama Henry Dassen yang dikenal sebagai Abraham Dassen.

Peresmian masjid dilakukan oleh Sultan Kutai Kartanegara, Sultan Aji Muhammad Sulaiman, pada 27 Rajab 1311 Hijriah atau sekitar 1891. Pada kesempatan itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman juga menjadi imam pertama, menandai pengakuan resmi Kesultanan Kutai atas keberadaan masjid sebagai pusat syiar Islam di Samarinda Seberang.

Reputasi dan Warisan Bersejarah

Seiring waktu, Masjid Shirathal Mustaqiem semakin dikenal luas. Pada Festival Masjid Bersejarah di Jakarta tahun 2003, masjid ini meraih juara kedua, memperkuat reputasinya sebagai salah satu masjid bersejarah penting di Indonesia.

“Alhamdulillah marwah daripada masjid ini sangat terkenal sudah, Masjid Shirathal Mustaqiem mendapat pemenang kedua dari Festival Masjid Bersejarah,” ujarnya.

Beragam peninggalan bersejarah masih terjaga di dalamnya, mulai dari mihrab tempat Sultan Kutai pertama kali mengimami salat, peti kuno pemberian saudagar Belanda Henry Dassen, hingga mushaf Al-Qur’an tulis tangan yang telah berusia ratusan tahun.

img 20260219 wa0055

Masjid ini juga kerap menjadi destinasi religi bagi masyarakat maupun wisatawan. Sejumlah tokoh nasional hingga tamu negara pernah berkunjung, menambah panjang catatan sejarah dan memperkuat perannya dalam perjalanan keagamaan di Samarinda.

Kini, lebih dari seabad berdiri, Masjid Shirathal Mustaqiem bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia adalah ikon religi yang terus hidup, menjadi penanda perjalanan dakwah, budaya, dan identitas masyarakat Samarinda yang melintasi zaman. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *