KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Momen Iduladha membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bumbu di Pasar Segiri Samarinda. Di tengah meningkatnya aktivitas memasak daging kurban, permintaan bumbu halus mengalami lonjakan signifikan, bahkan mampu mendongkrak pendapatan pedagang hingga jutaan rupiah dalam sehari.
Salah satunya dirasakan Yuli, pedagang bumbu halus yang sudah lebih dari 10 tahun berjualan di Pasar Segiri. Ia mengaku, saat Iduladha, jumlah pembeli meningkat tajam dibanding hari biasa. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang langsung mengolah daging kurban menjadi berbagai masakan. “Kalau hari raya kurban, orang pada dapat daging, pada masak semua kan,” ujarnya.
Di lapaknya, Yuli menyediakan berbagai jenis bumbu halus mentah yang diolah sendiri, mulai dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai kering, lengkuas, kunyit hingga kluwak. Selain itu, ia juga menjual daun aromatik seperti daun jeruk dan daun salam, baik kering maupun basah.
Dari sekian banyak jenis bumbu, beberapa menu khas menjadi favorit pembeli saat Iduladha. “Paling diminati pas momen iduladha ini rawon dan rendang, juga gulai,” ungkapnya.
Meski permintaan meningkat, Yuli mengaku tidak menaikkan harga jual. Ia memilih mempertahankan harga agar tetap terjangkau bagi pembeli, meskipun harus menyiasati jumlah isi bumbu. Namun, kenaikan harga bahan baku seperti cabai memaksa dirinya untuk menyesuaikan porsi bumbu yang dijual. Hal ini dilakukan agar harga tetap stabil di pasaran.
“Kalau misalnya salah satu bahan bumbu ada kenaikan, kayak lombok sekarang lagi mahal-mahalnya, jadi saya menyesuaikan saja porsi bumbu halusnya yang saya kurangin, tapi harganya tetap sama, ngikutin harga,” katanya.
Harga bumbu yang dijual Yuli sendiri cukup bervariasi, mulai dari Rp5 ribu. Namun, saat harga bahan naik, pembelian dalam jumlah kecil terkadang tidak bisa dilayani.
Namun, di balik harga jual yang relatif terjangkau, modal yang dikeluarkan pedagang ternyata cukup besar. Yuli mencontohkan, untuk satu jenis bumbu saja seperti cabai, ia bisa mengeluarkan ratusan ribu rupiah.
“Kalau lagi rame penghasilan bisa mencapai Rp 2 juta ke atas karena memang modalnya juga besar, kayak misal beli lombok 10 kilo harganya 70 ribu per kilo, modalnya saja sudah 700 ribu untuk satu jenis bumbu,” jelasnya.
Dalam sehari, Yuli mulai berjualan sejak pukul 06.00 hingga 18.00 WITA. Selama ini, ia lebih mengandalkan penjualan langsung di pasar, meski tetap melayani pesanan dari pelanggan tetap melalui pesan singkat. Mayoritas pembeli berasal dari kalangan ibu rumah tangga meskipun tidak sedikit juga pemilik warung makan yang datang membeli bahan tertentu.
“Paling banyak pelanggannya sih ibu rumah tangga, warung makan juga ada. Tapi kalau warung makan kan nggak dicampur (bumbunya), paling beli lengkuas aja atau apa gitu, mereka yang ngolah sendiri,” ujarnya.
Meski bukan pedagang musiman, Yuli mengaku momen Idul Adha selalu menjadi waktu yang paling dinanti karena mampu meningkatkan pendapatan secara signifikan dibanding hari biasa. “Kalau pas hari lebaran alhamdulillah nyampe diatas 2 juta pendapatannya.” pungkasnya. (mell)