merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Harga Cabai Turun ke Rp30 Ribu, Pedagang Pasar Merdeka Malah Sepi Pembeli

whatsapp image 2026 07 16 at 11.48.56
Suwanti (52), pedagang sayur di Pasar Merdeka Samarinda. Harga cabai turun menjadi Rp30 ribu per kilogram, namun daya beli masyarakat masih lesu. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Turunnya harga cabai hingga menyentuh Rp30 ribu per kilogram ternyata belum membawa angin segar bagi pedagang di Pasar Merdeka, Samarinda.

Alih-alih kebanjiran pembeli, mereka justru mengeluhkan daya beli masyarakat yang masih lesu sehingga omzet harian ikut tergerus, meski harga salah satu komoditas dapur itu berada di titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Suwanti (52), pedagang sayur di Pasar Merdeka, mengatakan harga cabai saat ini jauh lebih murah dibanding ketika momen Iduladha 1447 H.

Saat itu, harga sempat melonjak hingga Rp80 ribu per kilogram sebelum perlahan turun ke kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.

“Sebelumnya sempat Rp80 ribu waktu Lebaran Haji. Setelah itu sempat Rp40 ribu, Rp45 ribu sampai Rp50 ribu. Sekarang paling murah, Rp30 ribu,” ujarnya.

Menurut Suwanti, penurunan harga tidak hanya dipengaruhi kondisi pasokan, tetapi juga kualitas cabai yang beredar. Cabai yang ia jual berasal dari Pasar Segiri dan dinilai memiliki kualitas yang sedikit menurun dibanding biasanya sehingga harga ikut terkoreksi.

“Yang sekarang memang kualitasnya agak kurang bagus dibanding biasanya, makanya harganya juga turun,” katanya.

Namun, harga yang lebih murah ternyata belum mampu menghidupkan geliat pasar. Suwanti justru merasakan kondisi yang bertolak belakang.

Saat harga cabai tinggi, pembeli masih ramai berdatangan. Kini, ketika harga sudah jauh lebih terjangkau, jumlah pembeli justru berkurang.

“Kalau lombok mahal itu banyak yang nyari. Tapi kalau lombok murah malah enggak. Pembelinya turun banyak,” tuturnya.

Turunnya harga cabai belum sejalan dengan meningkatnya transaksi di pasar. Menurut Suwanti, lesunya daya beli masyarakat membuat penurunan harga belum mampu menarik lebih banyak pembeli, sehingga aktivitas jual beli tetap terasa sepi.

Situasi tersebut membuat Suwanti memilih lebih berhati-hati dalam mengatur stok dagangan. Setiap hari ia hanya mengambil cabai dari Pasar Segiri dalam jumlah secukupnya agar modal usaha tetap berputar dan tidak tertahan pada barang yang berisiko tidak habis terjual.

“Kalau ini habis baru besok pagi ambil lagi di Segiri. Enggak banyak ngambil barang, dipakai mutar uang saja,” pungkasnya. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *