KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menemukan pola konsumsi unik di wilayahnya: harga tinggi bukan menjadi persoalan utama bagi masyarakat. Bagi warga Kutim, ketersediaan barang jauh lebih penting dibanding harga murah. Temuan ini menjadi parameter penting bagi pemerintah dalam merumuskan strategi pengendalian inflasi. Jumat (14/11/25).
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan, karakter konsumsi tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi sosial hingga geografis. “Masyarakat Kutim punya orientasi yang berbeda. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan harga yang sedikit lebih tinggi, selama barang ada dan bisa dibeli,” ujarnya.
Karakter ini terbentuk karena Kutim merupakan daerah konsumen murni. Hampir seluruh pasokan kebutuhan pokok datang dari luar, termasuk Surabaya, Makassar, dan Samarinda. Dengan distribusi yang panjang dan biaya logistik yang tinggi, harga barang wajar berada di atas daerah produsen.
Selain itu, luas wilayah Kutim membuat distribusi barang tidak selalu mudah. Jarak antar kecamatan bisa mencapai dua jam perjalanan. Situasi ini membuat masyarakat lebih menghargai ketersediaan stok daripada harga murah.
“Kalau pasokan terganggu, dampaknya langsung terasa. Karena itu warga lebih takut barang langka daripada harga naik,” katanya.
Menurut Dony, perilaku pasar di Kutim juga menunjukkan, kelangkaan barang lebih memicu kepanikan ketimbang kenaikan harga. “Pasokan adalah kunci ketenangan pasar,” tegasnya.
Dari fenomena ini, pemerintah memilih fokus pada availability melalui kerja sama pasokan antardaerah, pemantauan stok, dan penguatan jalur logistik. Kebijakan ini diharapkan menjaga stabilitas pasar dan mengurangi risiko gejolak harga. (adv/diskominfokutim/yud)