KALTIMVOICE.IDA, SAMARINDA – Di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang kian majemuk, tingkat toleransi antarumat beragama menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas sosial. Perbedaan keyakinan, praktik ibadah, dan tradisi keagamaan yang hidup berdampingan menuntut adanya sikap saling menghormati agar harmoni tetap terjaga.
Hasil terbaru menunjukkan, generasi muda memiliki peran signifikan dalam memperkuat nilai tersebut. Berdasarkan data GoodStats Data, Generasi Z mencatatkan skor toleransi beragama tertinggi pada 2025 dengan angka 80,03. Capaian ini melampaui generasi lainnya, seperti Generasi X yang berada di angka 78,97, Baby Boomers 78,81, serta Milenial dengan skor 78,77.
Data tersebut bersumber dari Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dirilis Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Alvara Strategic Research. Survei dilakukan secara kuantitatif terhadap 1.208 responden Muslim di 34 provinsi menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 2,89 persen.
Dalam survei tersebut, toleransi beragama diukur melalui sejumlah indikator utama, di antaranya sikap menerima pelaksanaan ibadah agama lain, tidak mencela keyakinan yang berbeda, menolak tindakan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian berbasis agama. Indikator-indikator ini menggambarkan bagaimana sikap toleransi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan terbuka Generasi Z terhadap keberagaman juga tercermin dari sikap individu muda agar menyikapi perbedaan keyakinan. Reza (24), salah satu perwakilan Gen Z, menilai bahwa agama seharusnya tidak dijadikan sumber konflik di tengah masyarakat.
“Menurutku, agama itu urusan masing-masing sih. Yang penting saling menghormati dan nggak ikut campur keyakinan orang lain,” ujarnya.
Meski capaian toleransi Gen Z tergolong tinggi, upaya penguatan nilai-nilai toleransi dinilai tetap harus dilakukan secara berkelanjutan. Pendidikan, keteladanan tokoh masyarakat, serta kebijakan publik yang mendorong kerukunan menjadi faktor penting dalam menjaga iklim keberagaman yang sehat.
Sikap terbuka yang ditunjukkan Generasi Z dinilai sebagai modal sosial strategis bagi masa depan Indonesia. Dengan tetap menghormati nilai keimanan masing-masing, generasi ini diharapkan mampu menjadi penggerak terciptanya masyarakat yang rukun dan harmonis di tengah perbedaan. (yud)