KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperlihatkan kemajuan nyata dalam membangun sistem pendidikan yang adaptif, berkelanjutan, dan berkarakter lokal. Tidak hanya fokus pada pembangunan fisik sekolah, Pemkab Kutim kini menyeimbangkan tiga pilar utama dalam sektor pendidikan, yakni infrastruktur, akurasi data, dan penguatan kebudayaan. Jumat (14/11/25).
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan, paradigma pembangunan pendidikan di Kutim telah bergeser. Pemerintah tidak lagi mengukur kemajuan hanya dari jumlah sekolah baru, melainkan dari kualitas tata kelola dan dampak sosial terhadap masyarakat.
“Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan data yang akurat dan kebudayaan yang hidup,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Pemkab Kutim terus memperbaiki fasilitas belajar hingga ke pelosok, termasuk mendirikan sekolah filial agar akses pendidikan merata di semua wilayah. Di bidang tata kelola, Kutim menjadi pelopor daerah yang melakukan verifikasi dan validasi data pendidikan secara mandiri, sehingga kebijakan yang dibuat benar-benar berbasis pada kondisi riil lapangan.
Sementara itu, pada sektor kebudayaan, pemerintah daerah menghidupkan kembali semangat literasi dan kreativitas melalui festival budaya, pentas seni pelajar, hingga pelatihan guru berbasis budaya lokal.
“Anak-anak Kutim tidak hanya diajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga mengenali jati dirinya sebagai bagian dari daerah yang kaya budaya,” kata Mulyono.
Ia menegaskan, arah pendidikan Kutim ke depan adalah membangun manusia seutuhnya, cerdas, berkarakter, dan berakar pada nilai-nilai lokal. “Kalau tiga unsur ini berjalan bersama, maka pendidikan kita bukan hanya mencetak lulusan, tapi juga peradaban,” tutupnya.
Langkah ini menegaskan keseriusan Pemkab Kutim dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dan berkelanjutan. (adv/diskominfokutim/yud)