KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Dinas Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan bahwa proses seleksi calon penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia tidak hanya menilai capaian prestasi individu semata, melainkan juga menitikberatkan pada peran pembinaan dan regenerasi. Jumat (14/11/25).
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, menjelaskan, pihaknya ingin memastikan penghargaan ini benar-benar diberikan kepada sosok pelaku budaya yang memiliki kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem kebudayaan di daerah.
“Karena kriterianya di sini bukan hanya berprestasi di lomba, tapi dia ada membina, misalkan begitu,” jelasnya.
Menurutnya, kemenangan dalam ajang seni atau festival hanyalah salah satu aspek penilaian. Namun yang lebih penting adalah bagaimana seorang pelaku budaya mampu menularkan pengetahuan dan semangatnya kepada generasi muda.
“Yang dapat nominasi, yang dapat penghargaan itu semuanya adalah para pelaku seni budaya yang mengembangkan,” tegasnya.
Fadliansyah bahkan memberi contoh konkret, seperti seorang pelukis yang bukan hanya berkarya tetapi juga memiliki murid atau aktif mengajar. “Misalnya di seni lukis, dia pelukis, tapi dia juga punya siswa, ngajar,” tambahnya.
Pendekatan seleksi yang lebih holistik ini diharapkan mampu melahirkan tokoh-tokoh budaya yang tak hanya berprestasi secara individu, tetapi juga berperan sebagai agen pelestarian dan pembina generasi penerus. Dengan begitu, penghargaan yang diberikan tidak hanya bersifat simbolik, melainkan menjadi pengakuan atas kontribusi nyata terhadap keberlangsungan budaya di Kutim. (adv/diskominfokutim/yud)