desain sukseskan kukar idaman terbaik

Dedikasi Puluhan Tahun yang Berbuah Manis, Marbut Samarinda Ini Diberangkatkan Umrah Gratis

img 20251203 wa0008
Taif, marbut Masjid Jami Al-Ma'ruf. (dokumentasi pribadi).

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Di Masjid Jami Al-Ma’ruf, sebuah rumah ibadah besar di kawasan Ramania, Sidodadi, Samarinda Ulu, ada sosok yang hampir selalu hadir sebelum jamaah pertama datang. Dialah Taif, 60 tahun, yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan kebersihan dan kenyamanan masjid berkapasitas ribuan jamaah itu. Pekerjaan yang ia jalani tidak pernah lepas dari rutinitas fisik, namun tetap ia lakukan tanpa keluh.

Setiap hari, jauh sebelum azan Subuh terdengar, Taif sudah menyusuri area masjid sambil membawa sapu, kain lap, atau perkakas ringan untuk memperbaiki fasilitas yang rusak. Dari halaman, tempat wudu, hingga sistem pengeras suara, semua ia pastikan siap digunakan jamaah.

“Kalau marbut itu kan merangkap segalanya. Di sini saya yang urus dari kebersihan sampai perbaikan yang ada di masjid,” tuturnya, Senin (1/12/2025).

Meski rutinitas tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, Taif tak pernah menyangka bahwa tahun 2025 akan memberi cerita berbeda dalam hidupnya. Pengabdiannya selama ini telah mengantar namanya masuk dalam daftar penerima Program Gratispol, yaitu program umrah gratis dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Hari itu, Taif sedang menjalani aktivitas seperti biasa, mengelap kaca dan membantu jamaah lanjut usia mencari tempat duduk, ketika tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya. “Saya tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba tim Gratispol menghubungi. Mungkin ada pengurus masjid yang mendaftarkan saya. Tapi mungkin rezeki saya yang dapat kesempatan ini,” ucapnya.

Program tersebut mencakup seluruh pembiayaan perjalanan. Paspor, tiket, transportasi, hingga hotel semua ditanggung pemprov. Taif bahkan ditempatkan hanya sekitar 600 meter dari Kabah, sebuah pengalaman yang membuatnya tak kuasa menahan syukur.

“Alhamdulillah, semuanya sangat mudah dan nyaman. Kalau bukan karena program Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, saya tidak akan bisa berangkat,” katanya.

Taif berangkat bersama ratusan marbut dari berbagai daerah di Kaltim. Durasi perjalanan yang hampir sembilan hari itu menjadi momen yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata. “Saya merasa seperti mimpi. Ribuan orang sholat bersama, suasananya luar biasa. Tidak ada kurangnya, semuanya lancar,” kenangnya.

Bagi Taif, ini bukan sekadar perjalanan ke luar negeri karena sebelumnya ia bahkan jarang naik pesawat. Ini adalah pengalaman spiritual yang mempertemukannya dengan ribuan jamaah dari seluruh dunia, suasana ibadah yang jauh lebih padat dari keseharian di Samarinda, serta ritme ibadah yang intens.

“Kalau di sini kan suasananya tenang. Di sana ribuan-ribuan orang salat. Masyaallah, beda sekali rasanya. Pengalaman yang tidak akan terlupakan,” ungkapnya.

Perjalanan itu menjadi gambaran bahwa profesi marbut, meski jarang disorot, memegang peranan besar dalam menjaga kualitas layanan masjid. Selain bertugas sebagai penjaga masjid, Taif juga bekerja sebagai sopir dump truck ketika ada kesempatan.

Namun, seiring berkurangnya pekerjaan, perannya sebagai marbut menjadi rutinitas utama yang ia tekuni. “Kami marbut sehari-hari merawat masjid. Membersihkan lantai, memperbaiki kran, memastikan jamaah nyaman. Dengan adanya program ini, kerja keras kami dihargai,” katanya penuh syukur.

Program Gratispol sendiri tak hanya menyediakan fasilitas umrah, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan pemerintah terhadap mereka yang bertahun-tahun menjalankan tugas sunyi tersebut. Proses administrasinya pun dibuat sederhana agar mudah dijangkau. “Alhamdulillah, semuanya dipermudah. Tinggal ikut arahan saja, semua difasilitasi,” ujarnya.

Dokumen, keberangkatan, hingga fasilitas selama berada di Tanah Suci semuanya telah disiapkan. Taif hanya fokus mempersiapkan diri untuk beribadah sebaik-baiknya. Sepulang dari Mekkah, rasa syukur itu belum surut. Ia berharap program serupa tetap berlanjut agar marbut lain yang belum mendapat kesempatan dapat turut merasakannya. “Mudah-mudahan marbut lain yang belum merasakan juga bisa ikut berangkat. Program ini sangat membantu dan membahagiakan,” harapnya.

Bahkan, bila suatu hari kesempatan serupa datang kembali, ia tak menutup kemungkinan untuk kembali mengunjungi Tanah Suci. “Kalau bisa ke sana lagi, siapa yang tidak mau? Tapi yang penting, marbut lain juga harus bisa merasakan,” katanya.

Bagi Taif, perjalanan umrah tidak hanya menjadi pengalaman spiritual, tetapi juga penanda bahwa pengabdian panjangnya tidak diabaikan. Sebuah wujud penghargaan yang membuatnya semakin yakin bahwa tugas menjaga rumah ibadah adalah amanah yang berharga. “Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menginjak Tanah Suci. Semoga program ini terus ada, agar marbut lain juga bisa merasakan kesempatan yang sama,” tutupnya. (Adv/DiskominfoKaltim/ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *