KALTIMVOICE.ID, PENAJAM — Bupati Penajam Paser Utara (PPU) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI), Mudyat Noor, mengimbau seluruh pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk menghentikan praktik pembakaran lahan dalam proses pembukaan lahan (land clearing).
Langkah tersebut dinilai sangat krusial mengingat ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di berbagai wilayah Indonesia kian mengkhawatirkan akibat fenomena cuaca ekstrem dan kemarau yang berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
“Kami berharap para pengusaha, baik itu perseroan maupun perseorangan, betul-betul bisa membuka lahan tanpa cara membakar,” tegas Mudyat Noor saat memberikan keterangan resmi terkait penanganan bencana lingkungan dan tata kelola perkebunan di daerah.
Menurut Bupati, sebagian pelaku usaha perkebunan sawit masih belum menyadari besarnya risiko ekologis akibat pembakaran lahan, terutama yang berada di atas ekosistem gambut seperti di Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Ia menjelaskan, secara ekonomis penanaman kelapa sawit di wilayah gambut memang sangat menguntungkan bagi para pengusaha karena ketersediaan pasokan airnya yang melimpah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Namun, ekosistem gambut yang mengering pada musim kemarau menjadi sangat rentan dan memicu kebakaran hebat yang sulit dipadamkan.
Kondisi tersebut diperparah oleh dinamika iklim yang meleset dari perhitungan awal perkiraan cuaca. Musim hujan yang diprediksi mulai melanda pada Oktober ternyata tertunda akibat dampak fenomena El Nino berkepanjangan.
“Perhitungannya harusnya sudah mulai masuk musim hujan di bulan Oktober ini, ternyata salah perhitungan. Fenomena ini semacam El Nino siklus tujuh tahunan yang terjadi sangat panjang, bahkan berpotensi berlangsung hingga Januari atau April mendatang,” ungkapnya.
Bupati PPU menambahkan bahwa dampak Karhutla di sejumlah wilayah di luar Kalimantan Timur dan Penajam Paser Utara sudah masuk dalam tingkatan yang sangat memprihatinkan. Bahkan, beberapa tim satgas daerah dilaporkan sempat menyerah akibat luasnya sebaran titik api dan sulitnya akses pemadaman di area terbakar.
Kendati demikian, Mudyat memastikan bahwa kondisi wilayah yang dipimpinnya, yakni Kabupaten Penajam Paser Utara serta daerah tetangga Kabupaten Paser, saat ini dalam situasi yang relatif terkendali dan jauh lebih aman dibandingkan daerah perkebunan lainnya.
“Kalau di Penajam cenderung lebih aman dibanding daerah lain. Wilayah Paser dan PPU kondisinya jauh lebih baik hari ini,” ujar Mudyat.
Sebagai kepala daerah sekaligus pimpinan asosiasi kabupaten penghasil sawit, Mudyat terus mendorong kesadaran kolektif dari seluruh pemangku kepentingan industri kelapa sawit agar menerapkan prinsip kelestarian lingkungan serta menghentikan metode pembakaran guna mencegah bencana asap dan kerusakan ekosistem yang lebih luas.
(Adv66/diskominfoppu/udin.zacrez)