KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Program Gratispol yang digadang sebagai motor percepatan peningkatan kualitas SDM Kalimantan Timur dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan di tingkat perguruan tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin, menegaskan bahwa keberhasilan beasiswa tersebut sangat bergantung pada standar akademik kampus. Bukan hanya pada penerima beasiswanya saja.
Dalam pandangannya, Gratispol seharusnya menjadi skema yang menggerakkan universitas untuk membangun atmosfer pembelajaran yang lebih ketat dan berorientasi pada hasil. Namun, ia melihat masih ada jarak antara tujuan program dengan realitas di lapangan. “Gratispol ini tujuannya agar SDM Kaltim maju. Tapi ada hal-hal yang harus diperkuat, khususnya soal outcome ke depan. Kalau saya lihat, ini belum sampai ke situ,” ujar Armin, Senin (24/11/2025).
Ia menyampaikan bahwa tanggung jawab untuk menghadirkan lulusan berkualitas tidak boleh berhenti di jenjang sekolah menengah. Menurutnya, kampus justru menjadi penentu kualitas akhir mahasiswa sebelum mereka memasuki dunia kerja.
“Universitas harus menyiapkan standar yang tinggi. Anak-anak kita masuk kampus itu harusnya hasilnya bagus. Jangan sampai mereka cuma dibebankan di SMA, sementara kampusnya tidak meningkatkan kualitas,” tegasnya.
Armin menekankan bahwa Gratispol bukan sekadar memberikan keringanan biaya kuliah, tetapi kontrak moral antara pemerintah, kampus, dan mahasiswa. Mereka yang menerima beasiswa, katanya, wajib membuktikan kepercayaan itu melalui performa akademik.
“Kita sudah kasih beasiswa, ya bayar dong dengan prestasi. Untuk dapat prestasi yang bagus, standar kampus juga harus tinggi.” kata Armin lagi.
Ia bahkan mengungkap kekhawatiran mengenai tingkat pengajaran di beberapa perguruan tinggi yang dinilainya masih belum mampu mengimbangi kualitas SMA unggulan di daerah. “Mohon maaf, kalau standar mengajarnya dosen masih di bawah SMA 10 atau SMA-SMA unggulan, ya bagaimana hasilnya? Mereka ini sudah terbiasa dengan pembelajaran tingkat tinggi. Begitu masuk universitas, standar turun, akhirnya kesulitan,” beber Armin.
Pengalaman pribadinya ketika meminta mahasiswa mempresentasikan karya ilmiah memperkuat penilaiannya. Banyak mahasiswa, kata dia, tak mampu memenuhi standar dasar yang seharusnya sudah dikuasai saat memasuki pendidikan tinggi. “Universitas harus melayani mahasiswa dengan standar tinggi. Ini penting untuk peningkatan akreditasi dan kualitas lulusan. Kalau tidak, kita akan terus tertinggal,” ujarnya.
Armin kembali menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai investasi jangka panjang pemerintah provinsi dalam menyiapkan SDM yang mampu bersaing di tengah kebutuhan tenaga profesional, termasuk menyongsong operasional penuh Ibu Kota Nusantara (IKN). “Gratispol harus punya hasil. Dan hasil itu hanya bisa dicapai jika sekolah dan universitas berjalan dengan standar yang sama-sama tinggi,” tutupnya. (Adv/DiskominfoKaltim/ns)