merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Air Tak Mengalir Sebulan, Petani Betapus Pasrah Panen Terancam Anjlok akibat Kekeringan

whatsapp image 2026 09 08 at 18.02.26
Kondisi lahan sawah yang kering dan retak akibat minimnya pasokan air. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kekeringan membuat kondisi sawah di Betapus, Samarinda, kian memprihatinkan. Air tak lagi mengalir ke lahan selama sekitar sebulan, sementara permukaan sawah mengering hingga tanah tampak pecah-pecah di antara tanaman padi yang mulai terdampak panas.

Bagi petani, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan lahan yang mengering. Tanaman padi yang masih berusia sekitar satu bulan kini tumbuh tidak maksimal, sementara waktu panen masih sekitar dua bulan lagi.

Salah seorang petani Betapus, Arlan (50), mengatakan padi di lahannya ditanam sebelum musim kering. Namun, beberapa pekan setelah ditanam, hujan berhenti dan sumber air yang biasa digunakan untuk mengairi sawah ikut mengering.

“Sudah sebulan ini tidak ada air. Tanamannya juga sudah mulai kering,” ujar Arlan saat ditemui di lahan sawah miliknya, Senin (7/6/2026).

Arlan menggarap lahan sekitar seperempat hektare. Dalam kondisi normal, lahan tersebut menurutnya dapat menghasilkan sekitar satu ton gabah. Namun, kekeringan kali ini membuat ia pesimistis hasil panennya akan menyamai produksi normal.

Ia memperkirakan masih ada tanaman yang bisa menghasilkan, tetapi jumlahnya kemungkinan jauh lebih sedikit. Jika kondisi air tidak segera membaik, Arlan memperkirakan hasil panen dari lahan yang digarapnya hanya sekitar satu kuintal.

“Paling tidak sampai setengah ton, ya mungkin sekuintal dapat,” katanya.

Padahal, varietas padi yang ditanamnya memiliki umur panen sedikit lebih dari tiga bulan. Dengan usia tanaman yang kini sekitar satu bulan, Arlan masih memiliki waktu sekitar dua bulan sebelum memasuki masa panen.

whatsapp image 2026 09 08 at 18.02.27
Arlan (50), petani di Betapus, saat ditemui di lahan persawahan miliknya di Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

Arlan mengatakan, jika pasokan air mencukupi, tanaman padi seharusnya mulai memasuki tahap “bunting” atau pembentukan malai. Namun, kondisi sawah yang kering membuat pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan harapannya.

Kekeringan juga membuat Arlan kesulitan melakukan perawatan. Pemupukan, misalnya, dinilai tidak banyak membantu ketika air tidak tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

“Percuma kalau mupuk, menguap lagi,” tuturnya.

Kondisi lahan di Betapus juga membuat pengairan menjadi tantangan tersendiri. Lahan yang digarap Arlan berada di posisi yang relatif lebih tinggi sehingga selama ini membutuhkan bantuan pompa, sementara beberapa petak di sekitarnya masih lebih memungkinkan mendapatkan air.

Menurutnya, selama air masih tersedia di parit, peluang tanaman untuk bertahan hingga panen masih terbuka. Persoalannya, sumber air dari kawasan tampungan yang biasa dimanfaatkan petani kini ikut mengering dan tidak lagi dapat diandalkan.

“Yang penting parit ini ada air, itu bisa panen,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, upaya pengairan mulai disiapkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapang Tani) Samarinda. Dinas berencana memasang dua pompa air untuk membantu mengalirkan air ke kawasan persawahan yang terdampak kekeringan.

Rencana tersebut menjadi harapan bagi petani untuk menyelamatkan tanaman yang masih bertahan. Bagi Arlan, tambahan pasokan air tetap berarti meski belum tentu mampu menjangkau seluruh lahan.

Sebab, hasil panen bukan hanya untuk dijual. Sebagian beras juga digunakan Arlan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya.

“Kalau bisa cepat dikasih pengairan, jadi ada harapan lah untuk makan,” demikian Arlan. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *