KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Ancaman kebakaran di Kota Samarinda meningkat di tengah musim kemarau. Kebakaran lahan disebut mengalami kenaikan signifikan hingga lima kali lipat dibandingkan kondisi normal.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan (Damkarmat) Kota Samarinda, Hendra AH Serdjanalko, mengatakan peningkatan paling banyak terjadi pada kasus kebakaran lahan. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kaltimvoice Podcast yang dipandu Metalianda atau Etha, Selasa (8/9/2026).
“Kalau di musim kemarau ini, fenomena El Nino, kebakaran itu kami catat kenaikannya sekitar lima kali lipat, terutama kebakaran lahan,” ungkap Hendra.
Menurutnya, kondisi cuaca yang panas dan kering turut meningkatkan potensi kebakaran di kawasan permukiman. Namun, untuk kebakaran lahan, faktor manusia masih menjadi penyebab utama.
Hendra menyebut sekitar 90 persen kebakaran lahan berkaitan dengan aktivitas manusia, salah satunya pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Untuk lahan itu penyebab utama hampir 90 persen karena ulah manusia. Banyak petani yang membuka lahan dengan dibakar,” jelasnya.
Ia mencontohkan sejumlah kejadian di wilayah Sambutan. Dalam beberapa kasus, pembakaran lahan dilakukan dengan alasan untuk membuka area pertanian.
Bahkan, petugas Damkarmat sempat mendapat hambatan ketika hendak melakukan pemadaman. Menurut Hendra, petugas pernah dihalang-halangi saat berupaya memadamkan api yang sengaja dibakar untuk kepentingan pertanian.
“Ada beberapa kali kejadian di Sambutan itu sengaja dibakar katanya untuk menanam padi. Bahkan kami dihalang-halangi untuk memadamkan,” ujarnya.
Dalam kejadian tersebut, kepolisian akhirnya turun tangan untuk mengamankan pihak yang diduga melakukan pembakaran.
Selain pembakaran lahan, Damkarmat juga menemukan potensi kebakaran yang berasal dari sisa aktivitas pertambangan ilegal. Hendra mengatakan, sejumlah lokasi meninggalkan sisa batu bara atau stockroom yang kemudian terbakar dan memicu api merambat ke lahan di sekitarnya.
“Stockroom batu bara yang ditinggalkan, sisa batu bara yang ditinggalkan penambang ilegal itu terbakar. Terbakar sendiri akhirnya membakar lahan luas,” katanya.
Kondisi semakin sulit ketika api merambat ke kawasan lahan gambut. Karakteristik gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus dan waktu yang lebih lama.
Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran, Hendra juga menceritakan salah satu operasi penyelamatan yang paling membekas baginya. Peristiwa itu terjadi saat kebakaran melanda sebuah toko bangunan di sekitar kawasan Simpang Alaya.
Dalam kejadian tersebut, empat orang yang terdiri dari dua anak-anak dan dua orang dewasa dilaporkan masih berada di dalam bangunan.
Asap yang memenuhi ruangan membuat kondisi korban sangat berbahaya. Petugas kemudian mengambil langkah cepat dengan membuat lubang pada bagian dinding bangunan menggunakan peralatan pemotong beton untuk membuka jalur keluarnya asap.
Setelah jalur terbuka, petugas melakukan penyemprotan air sehingga asap dapat keluar dari ruangan. Upaya tersebut akhirnya berhasil menyelamatkan keempat warga yang terjebak.
“Banyak informasi sudah pingsan dan sebagainya. Tapi alhamdulillah dengan dikeluarkan asap melalui dinding yang dibolongi menggunakan alat kami, semua terselamatkan,” tutur Hendra.
Menurut Hendra, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tugas Damkarmat tidak hanya sebatas memadamkan api. Petugas juga dituntut mampu mengambil keputusan cepat ketika keselamatan warga menjadi prioritas.
“Ini tak lagi hanya memadamkan api, tapi juga turut menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Hendra berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas ketika kebakaran sudah terjadi. Kesadaran menjaga lingkungan, kewaspadaan terhadap sumber api, serta larangan membuka lahan dengan cara membakar perlu menjadi perhatian bersama.
Sebab, menurutnya, upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menunggu api membesar dan kemudian mengerahkan petugas untuk melakukan pemadaman.