merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Ada Hajatan Besar hingga Unjuk Rasa, Penjaja Kopi Keliling Ini Bisa Raup Rp5 Juta Sehari

whatsapp image 2025 09 02 at 15.02.49 5a721242
Ridho (23) penjual kopi keliling yang berjualan di belakang Masjid Islamic Center. (ns/kaltimvoice)

KALTIMVOICE, SAMARINDA – Acara-acara besar di Kota Samarinda seperti pawai, konser, hingga aksi demonstrasi adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh pedagang kecil. Penjualan mereka melonjak drastis, bahkan dua kali lipat dari hari biasa.

Seperti diakui Ridho (23), penjual kopi keliling asal Banjarmasin yang mangkal di belakang Islamic Center Samarinda. Omzetnya naik signifikan setiap kali ada keramaian.

“Kalau ada event-event seperti pawai, demo, konser, penjualan laku 2 kali lipat dari biasanya, sekitar lebih 200 cup, kalau biasanya laku 100 lebih dikit aja,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).

Ia mengatakan bahwa pada momen-momen tertentu, dagangannya bisa habis jauh lebih cepat dibandingkan hari biasa.

Biasanya, ia berjualan hingga pukul 18.00 WITA. Dagangannya baru habis menjelang magrib. Namun, saat ada keramaian, seluruh dagangannya bisa ludes hanya sampai pukul 15.00 WITA.

“Kalau lagi ada event, penjualan bisa sampai 200 cup itu diperkirakan Rp 5 juta lebih, kalau di hari biasa pendapatannya sekitar 1 juta lebih,” tambahnya.

Meski persaingan antarpenjual kopi keliling semakin ketat, Ridho tetap yakin bahwa konsistensi dalam pelayanan dan menjaga cita rasa kopi adalah kunci utama usahanya. Ia mengakui bahwa semakin banyaknya penjual kopi justru membuat omzetnya ikut meningkat.

“Alhamdulillah, sekarang malah lebih ramai. Dulu awal-awal jualan jarang tembus 100 cup, paling banyak 80 cup saja,” ujarnya.

Kini, di hari-hari biasa saja, penjualannya sudah jauh lebih baik. Hingga malam hari, penjualan bisa menembus 120 cup.

Selain persaingan antarpedagang, musim hujan dan penertiban dari Satpol PP juga menjadi tantangan bagi Ridho dalam berjualan kopi keliling. Selama delapan bulan berjualan, ia mengaku beberapa kali harus menghadapi penertiban. Bahkan, bisa terjadi hingga tiga kali dalam sehari.

Meski begitu, ia tetap bertahan di lokasi sekarang. “Karena penghasilan satu-satunya, ramainya di sini. Pernah juga pindah tempat, sama juga dikejar-kejar Satpol, jadi di mana aja sama,” ujarnya.

Saat ini, ia masih menggunakan rombong dengan sistem gaji bulanan, bonus harian, dan bonus bulanan. Dengan tambahan bonus, pendapatannya bisa menyamai bahkan melampaui Upah Minimum Provinsi (UMP).

“Gaji pokoknya 2 juta, perkiraan gaji plus bonus itu mencapai UMP bahkan lebih, paling sedikit 3,8 juta kalau musim sepi, kalau ramai bisa lebih,” ungkapnya.

Ridho pun berharap suatu hari bisa memiliki rombong sendiri dan usahanya berkembang. “Pengennya punya rombong sendiri, tapi insyaallah masih berusaha, mempelajari, masih panjang perjalanannya,” pungkasnya. (ns)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *