merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Jalur Sungai, Opsi Andalan Jamaah Menuju Haul Guru Sekumpul

img 20251227 wa0019
Jamaah Haul Guru Sekumpul menggunakan Transportasi Air (yud/kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, MARTAPURA – Kedatangan jamaah Haul Guru Sekumpul dengan moda transportasi air di Kabupaten Banjar sangat banyak. Dermaga 1 Kelurahan Murung Pelabuhan, Kecamatan Martapura, menjadi salah satu titik utama kedatangan jamaah yang memanfaatkan sungai sebagai akses menuju pusat kegiatan haul, Sabtu (27/12/25).

Sejak pagi, ratusan jamaah tampak silih berganti turun dari kapal klotok dan transportasi air lainnya. Kepadatan di dermaga meningkat seiring mendekatnya peringatan Haul Guru Sekumpul, momen tahunan yang selalu menarik jamaah dari berbagai daerah, termasuk luar Provinsi Kalimantan Selatan.

Koordinator Lapangan Dermaga 1 Murung Pelabuhan, Fahrorrozi, mengatakan, relawan telah bersiaga sejak beberapa hari sebelumnya agar mengantisipasi lonjakan kedatangan jamaah melalui jalur sungai. Menurutnya, tanda-tanda peningkatan arus jamaah sudah terlihat sejak pertengahan pekan.

“Kalau jaga itu untuk kedatangan pertama sekitar hari Rabu sudah ada kapal yang datang. Tugas utama kami menyambut tamu yang melintas lewat zona air,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peran relawan di dermaga tidak hanya sebatas pengaturan arus kedatangan. Berbagai fasilitas penunjang juga disiapkan agar membantu jamaah, mulai dari konsumsi, informasi penginapan, hingga layanan antar-jemput menuju lokasi tujuan.

Dalam beberapa hari terakhir, intensitas kedatangan jamaah disebut meningkat cukup signifikan. Kondisi dermaga yang sebelumnya relatif lengang kini mulai dipadati penumpang yang datang hampir bersamaan.

“Beberapa terakhir ini makin memadat. Yang asalnya santai saja datangnya, ini sudah mulai membeludak,” tambahnya.

Salah satu jamaah yang memanfaatkan jalur sungai adalah Bayati, warga Desa Bahau, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia mengaku memilih transportasi air karena keterbatasan akses angkutan darat dari daerah asalnya menuju Martapura. “Karena tidak ada angkutan umum atau taksi darat, jadi satu-satunya pilihan hanya jalur air,” ungkapnya.

Perjalanan yang ditempuh Bayati terbilang panjang. Ia berangkat sejak pukul 06.00 pagi dan baru tiba di Martapura sekitar pukul 21.00 Wita. Total waktu tempuh mencapai 15 jam akibat adanya kendala teknis selama perjalanan.

“Jalur sungainya sebenarnya aman dan pasti bisa dilewati. Namun kemarin ada kendala teknis, aki kapal habis setrum, jadi kami harus bertahan sebentar mengisi setrumannya itu. Itulah sebabnya kami baru sampai malam hari,” jelasnya.

Meski melelahkan, dirinya mengaku bersyukur dapat tiba dengan selamat dan merasa terbantu dengan pelayanan relawan di Dermaga Murung Pelabuhan. Ia menilai para relawan sigap dan ramah dalam membantu jamaah yang baru tiba.

Menjelang puncak haul, Fahrorrozi mengimbau seluruh jamaah yang menggunakan jalur air agar tetap menjaga ketertiban dan mematuhi arahan petugas demi kelancaran dan keselamatan bersama. “Imbauannya yang pasti tertib, tetap mematuhi aturan, dan mematuhi arahan relawan yang bertugas,” pungkasnya. (yud)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *