KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Di balik tubuh jumbo seberat 1,07 ton, sapi kurban bantuan presiden (banpres) untuk Kalimantan Timur menyimpan kisah panjang yang tak banyak diketahui orang. Sapi bernama Bejo itu ternyata sempat membuat pemiliknya frustrasi karena sulit beradaptasi usai didatangkan dari Sulawesi ke Samarinda.
Selama hampir tiga bulan, sapi jenis Brahman Cross tersebut disebut tak mau makan normal dan hanya berdiri di kandang. Kondisinya bahkan sempat drop hingga tulang rusuknya terlihat.
“Waktu awal datang itu makan susah sekali, minum juga cuma dijilat-jilat. Saya sampai stres sendiri merawatnya,” ujar peternak asal Kelurahan Tanah Merah, Samarinda, Mujianto.
Padahal saat didatangkan, Bejo sudah berbobot sekitar 900 kilogram. Namun, perubahan lingkungan membuat sapi berusia enam tahun itu sulit beradaptasi. Mujianto mengaku sampai mencari berbagai jenis pakan agar Bejo mau makan. Mulai dari batang pisang hingga pakan yang biasa dikonsumsi sapi tersebut di daerah asalnya.
“Biasanya sapi dari Sulawesi adaptasi paling dua minggu. Ini sampai tiga bulan baru benar-benar mau makan normal,” katanya.
Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Bejo perlahan tumbuh sehat, makin besar, hingga kini mencapai bobot 1,07 ton dan terpilih menjadi sapi kurban Presiden RI untuk Iduladha 1447 Hijriah di Kalimantan Timur. Rencananya, Bejo akan disembelih saat Iduladha mendatang di kawasan Masjid Islamic Center Samarinda.
Nama “Bejo” sendiri ternyata bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa, nama tersebut identik dengan keberuntungan.
Mujianto mengatakan, sejak awal dirinya memang berharap sapi itu membawa hoki. Harapan itu kini benar-benar terjadi setelah Bejo terpilih menjadi sapi banpres. “Makanya saya kasih nama Bejo. Alhamdulillah ternyata benar-benar membawa keberuntungan,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia juga mengaku sempat mendapat tawaran dengan harga tinggi dari seorang pengusaha sehari sebelum dinas peternakan menghubunginya terkait kebutuhan sapi kurban presiden. Namun, tawaran tersebut langsung dibatalkan. “Karena ini untuk Pak Presiden, saya ikuti saja ketentuannya,” katanya.
Untuk menjaga kondisi sapi jumbo itu tetap sehat, Mujianto menerapkan perawatan khusus mulai dari kebersihan kandang, pemberian vitamin rutin hingga pakan fermentasi agar sapi tetap nyaman dan kandang tidak terlalu berbau.
Sebagai peternak, Mujianto berharap keberhasilan Bejo bisa menjadi motivasi bagi peternak lain di Kalimantan Timur untuk mulai membudidayakan sapi-sapi unggulan dengan perawatan maksimal.
“Harapan saya ke depan semakin banyak peternak di Kaltim yang bisa menghasilkan sapi jumbo berkualitas. Mudah-mudahan nanti lebih banyak lagi sapi dari daerah kita yang terpilih jadi kurban bantuan presiden.” pungkasnya. (mell)