KALTIMVOICE.ID, PENAJAM — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengancam keselamatan warga dan anak-anak sekolah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Perubahan kondisi udara yang sangat cepat dan membahayakan kesehatan memaksa pemerintah daerah bergerak cepat mengevaluasi aktivitas persekolahan demi mencegah krisis kesehatan yang lebih membara.
Kondisi udara di empat wilayah utama, yaknj Kecamatan Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku saat ini terus berfluktuasi secara drastis setiap harinya. Penurunan kualitas udara ini berpotensi membahayakan sistem pernapasan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan. Situasi mendesak ini menuntut pemantauan nonstop agar kebijakan darurat seperti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat diputuskan secara tepat sasaran sebelum jatuhnya korban sakit.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, menegaskan bahwa angka indikator udara terus berubah dan menjadi alarm penting bagi keselamatan dunia pendidikan.
“Pengukuran kualitas udara ini setiap hari berubah. Pagi dan sore bisa berbeda, sehingga laporan yang tersedia perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan,” kata Nurlaila, Senin (19/10/2026).
Ancaman kualitas udara terburuk saat ini menghantam kawasan Sepaku. Berdasarkan pengukuran intensif pada 17 Oktober 2026 pukul 12.00 hingga 14.00 WITA, wilayah Sepaku resmi masuk ke dalam zona merah kualitas udara.
“Untuk Penajam, Waru, dan Babulu, berdasarkan data yang disampaikan, kualitas udaranya masih kategori sedang. Sedangkan Sepaku sudah tidak sehat,” ujarnya.
Laporan ini menandakan peningkatan status bahaya yang tidak boleh diabaikan. Tingkat pencemaran udara berpotensi melonjak sewaktu-waktu tergantung pada intensitas karhutla serta arah angin.
Nurlaila menerangkan, kategori kualitas udara memiliki tingkatan, mulai dari baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Setiap kategori memiliki tingkat risiko berbeda terhadap kesehatan masyarakat.
Pada kategori sedang, kualitas udara secara umum masih dapat diterima, tetapi kelompok sensitif tetap perlu memperhatikan potensi dampak kesehatan. Adapun kategori tidak sehat memerlukan kewaspadaan lebih tinggi, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Akibat tingkat pencemaran yang sudah menembus ambang batas aman bagi pernapasan anak-anak, tindakan darurat langsung diambil di wilayah terdampak paling parah. Kecamatan Sepaku tercatat telah lebih dahulu menerapkan PJJ untuk menyelamatkan para siswa dan guru dari paparan racun asap karhutla di luar ruangan.
Sementara itu, untuk tiga kecamatan lainnya—Penajam, Waru, dan Babulu—ancaman PJJ total juga berada di depan mata jika tren kualitas udara memburuk dalam beberapa jam atau beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah terus bersiap memindahkan aktivitas belajar-mengajar ke rumah secara mendadak begitu indikator bahaya terlampaui.
Sesuai arahan Sekretaris Daerah PPU, sektor kesehatan kini dijadikan benteng pertimbangan utama. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) diminta siap siaga mengeksekusi kebijakan PJJ berdasarkan laporan harian kualitas udara.
Meski demikian, penentuan kebijakan teknis terkait kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan tetap perlu mengacu pada penjelasan serta rekomendasi Dinas Kesehatan PPU. Seluruh warga dan pihak sekolah diimbau terus memantau informasi resmi serta membatasi aktivitas fisik di luar ruangan hingga situasi kabut asap membaik.
(Adv74/diskominfoppu/udin.zacrez)