KALTIMVOICE.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mengoptimalkan program pasar murah sebagai instrumen utama stabilisasi harga sekaligus pengendalian inflasi. Program yang dijalankan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) ini dinilai memberi dampak signifikan dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan, pasar murah dirancang bukan sekadar untuk menjual barang lebih murah, tetapi menjadi intervensi pemerintah terhadap dinamika harga di pasar. “Pasar murah itu sifatnya intervensi. Kalau harga mulai tidak wajar atau terjadi kegaduhan pasar, kami langsung turun,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Dalam program ini, pemerintah menyediakan paket tujuh komoditas pokok beras lima kilogram, minyak goreng, gula, mie instan, sarden, susu, dan teh celup. Harga paket ini dipatok hanya sekitar Rp100 ribu, jauh di bawah harga normal yang bisa mencapai Rp300 ribu. “Kalau dihitung harga normal, paket seperti ini bisa mencapai Rp300 ribu. Namun di pasar murah, warga cukup membayar sekitar Rp100 ribu saja,” jelas Dony.
Pasar murah umumnya digelar pada momen-momen tertentu, seperti Ramadan, Idul Fitri, Natal, atau ketika terjadi lonjakan harga dan isu pasar yang berpotensi memicu keresahan masyarakat. Dengan demikian, pasar murah tidak hanya menjadi bantuan ekonomi, tapi juga alat menjaga kestabilan psikologis pasar.
Disperindag memastikan, semua komoditas yang dijual dalam pasar murah berasal dari distributor resmi dan memenuhi standar kualitas. “Kami tidak mau pasar murah justru merugikan warga. Semua barang harus melalui pengecekan,” tambahnya.
Menurut Dony, kehadiran pasar murah dapat mencegah pedagang menaikkan harga secara tidak wajar karena adanya sinyal kuat bahwa pemerintah siap melakukan intervensi. “Ini membuat pedagang tetap kompetitif dan mencegah lonjakan harga yang tidak wajar,” tutupnya. (adv/diskominfokutim/yud)