KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA — Perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia tahun ini kembali diwarnai perbedaan penetapan waktu. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sementara pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU) merayakannya pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbedaan tersebut bukan hanya terjadi pada penentuan Idulfitri, tetapi juga sejak awal Ramadan. Muhammadiyah lebih dahulu memulai puasa, sedangkan pemerintah bersama NU menetapkannya sehari setelahnya melalui metode rukyatul hilal.
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda, Nasrun, menjelaskan bahwa perbedaan ini merupakan hal yang lumrah karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah. “Awal puasa antara versi pemerintah dan Muhammadiyah memang sudah berbeda. Ada yang mulai tanggal 18, sementara kita tanggal 19,” ujarnya.
Ia menuturkan, perbedaan awal puasa tersebut otomatis berdampak pada penentuan akhir bulan Ramadan. Umat yang memulai lebih dulu akan lebih cepat menyelesaikan puasanya, sementara yang memulai belakangan dan hilal belum terlihat akan menyempurnakan puasa hingga genap 30 hari.
Ketentuan menggenapkan puasa hingga 30 hari, kata dia, memiliki dasar yang jelas dalam hadis Nabi Muhammad SAW. “Kalau hilal tidak terlihat karena terhalang, maka disempurnakan menjadi 30 hari. Itu yang menjadi dasar,” jelasnya.
Nasrun juga menegaskan bahwa dalam sistem kalender hijriah, jumlah hari dalam satu bulan tidak mungkin melebihi batas tersebut. “Tidak mungkin puasa sampai 31 hari. Dalam penanggalan hijriah itu tidak memungkinkan,” katanya.
Dengan adanya perbedaan ini, momen Lebaran di Samarinda tidak dirayakan secara serentak. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang perlu diperdebatkan, melainkan disikapi dengan bijak. “Kita saling menghargai saja. Itu yang paling penting,” pungkasnya. (mell)