merah hitam putih modern berita terkini banner youtube

Kemarau Tahun Ini Diprediksi Lebih Mundur, BPBD Kaltim Ingatkan Ancaman Air dan Karhutla di Puncak Juli–Agustus

img 20260422 wa0015
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mengantisipasi potensi dampak musim kemarau 2026 yang diprediksi mengalami pergeseran waktu. Berdasarkan rilis terbaru BMKG, musim hujan diperkirakan berlangsung lebih panjang sehingga awal kemarau mundur dari perkiraan sebelumnya.

Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menyebut pergeseran ini membuat masa peralihan terjadi pada akhir April hingga Mei, sebelum akhirnya memasuki puncak kemarau pada pertengahan tahun.

“Rilis BMKG terbaru menyebutkan terjadi perpanjangan musim hujan. Jadi yang sebelumnya kita perkirakan April sudah masuk kemarau, bergeser ke akhir April sampai Mei, dan puncaknya mulai Juni, terutama Juli hingga Agustus,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Memasuki periode puncak tersebut, BPBD mengingatkan potensi dampak yang perlu diwaspadai, terutama terkait ketersediaan air bersih dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Yang harus kita perhatikan saat puncak kemarau nanti adalah dampaknya, terutama masalah cadangan air yang bisa menjadi lebih ekstrem pada Juli–Agustus,” ujarnya.

Selain itu, sektor pertanian dan perkebunan juga diminta bersiap lebih dini menghadapi perubahan pola musim. Penyesuaian waktu tanam dinilai penting untuk meminimalisir risiko gagal panen. “Untuk penanaman, khususnya pertanian dan perkebunan, bisa dilakukan lebih awal. Teknisnya nanti bisa dikoordinasikan dengan dinas pertanian,” tambahnya.

Meski sempat disinggung potensi fenomena iklim seperti El Nino yang identik dengan kekeringan ekstrem seperti tahun 2015, BPBD memastikan kondisi tahun ini masih dalam kategori yang lebih terkendali.

BPBD juga terus memantau titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah Kaltim. Buyung menjelaskan, kemunculan hotspot sangat bergantung pada kondisi lahan, baik itu kawasan tambang, perkotaan, maupun industri.

“Titik hotspot itu bervariasi, tergantung kondisi lahannya. Bisa berasal dari kawasan tambang, perkotaan, maupun industri. Yang menjadi perhatian adalah jika titik tersebut muncul lebih dari satu hari,” ungkapnya.

Berdasarkan pemantauan sementara, wilayah Kutai Timur dan Kutai Kartanegara sempat mencatat jumlah hotspot yang cukup tinggi, meski data tersebut masih bersifat dinamis dari hasil pembacaan satelit.

Namun demikian, BPBD mencatat kondisi hari tanpa hujan di Kaltim saat ini masih relatif aman, sehingga risiko kebakaran belum berada pada level mengkhawatirkan. “Hari tanpa hujan kita masih relatif pendek, di bawah 10 hari. Artinya potensi kebakaran masih bisa dikendalikan untuk saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, BPBD Kaltim akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta instansi terkait, termasuk sektor pangan dan pertanian, guna memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau, baik dari sisi ketahanan air, pangan, hingga stabilitas harga. “Kami terus berupaya dengan arahan pimpinan agar kita semua bisa melalui musim ini dengan baik.” tutup Buyung. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *