desain sukseskan kukar idaman terbaik

Karhutla Pelita 8 Berulang Lahap 20 Hektare, Satwa Liar Ditemukan Mati Terbakar

whatsapp image 2026 10 23 at 08.39.33
Petugas saat menemukan satwa liar jenis landak ditemukan mati terbakar pada karhutla di kawasan Perumahan Korpri Pelita 8, Samarinda, Kamis (22/10/2026). (Foto: mell/Kaltimvoice.id)

KALTIMVOICE.ID, SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di kawasan Perumahan Korpri Pelita 8, Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, Samarinda, tak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam keberadaan satwa liar.

Dalam rangkaian kebakaran di kawasan tersebut, petugas menemukan empat jenis satwa, termasuk seekor landak yang ditemukan mati terbakar pada kejadian terbaru.

Kebakaran pada Kamis (22/10/2026) itu melanda lahan di RT 6 yang berbatasan dengan RT 8 Perumahan Korpri Pelita 8. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Satgas Karhutla BPBD Kota Samarinda, Nanang Arifin, mengatakan laporan kebakaran diterima sekitar pukul 14.37 Wita. Petugas langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman, tetapi angin kencang membuat api cepat menjalar.

“Yang terbakar cukup luas ya, sekitar 20 hektare. Di sini juga terdapat salah satu hewan yang terbakar, yaitu hewan landak,” kata Nanang di lokasi kebakaran.

Temuan landak tersebut menambah perhatian terhadap dampak kebakaran berulang di Pelita 8 terhadap satwa yang berada di sekitar kawasan itu.

Nanang menyebut, selain landak, petugas juga mengetahui keberadaan ular, trenggiling, dan burung yang ditemukan selama kejadian kebakaran di lokasi tersebut.

“Kiita temukan ada 4 hewan yang berbeda, termasuk ular, landak, trenggiling, burung,” ujarnya.

Meski begitu, belum diketahui berapa jumlah satwa yang terdampak maupun kondisi masing-masing hewan. Keterangan petugas sejauh ini baru mengidentifikasi empat jenis satwa yang ditemukan.

Selain angin kencang, upaya pemadaman menghadapi kendala keterbatasan air. Minimnya pasokan air di sekitar lokasi membuat petugas harus mengatur suplai agar penyemprotan dapat terus dilakukan, terutama ketika api meluas akibat tiupan angin.

“Kendalanya kita angin cukup kencang sehingga membuat penyebaran api cukup luas, serta air minim disini, jarak air juga sekitar 5 kilometer,” bebernya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim menggunakan flexible tank sebagai tempat penampungan air. Suplai dilakukan secara bergantian sehingga petugas dan relawan dapat melanjutkan pemadaman di titik-titik kebakaran.

“Teknik untuk melakukan ini kita melakukan penyuplai menggunakan flexible tank. Jadi penampungan kita gunakan sehingga teman-teman dari relawan bisa estafet untuk melakukan penyemprotan di lokasi kebakaran,” tandas Nanang. (mell)

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *